Curhat yang seperti buang sampah

Ketika ada orang curhat padaku, aku menempatkan diriku sebagai dirinya, supaya dapat mendengar dan merasakan, apa yang dia rasakan, sehingga bisa jadi tempat berbagi beban.

Setelah curhat, ndak mungkin kan kita diam-diam saja?  “…oh ya udah.. aku sudah memberikan waktu dan kupingku untukmu, bahkan bahu untuk bersandar”

Biasanya juga di sertai dialog, untuk memperjelas untuk membantu mencarikan solusi.

Misalnya nih, ada yang curhat tentang kehidupan rumah tangganya, trus aku tanya “kalau pas di depan keluarganya, bagaimana sikap suamimu?” atau “Kalau lagi berdua, bagaimana sikap suamimu terhadapmu” atau “bagaimana kamu menyikapinya?” atau “bagaimana dengan anakmu” dll

Kadang kadang, berdasarkan jawaban itu, kita bisa memberikan alternative jalan keluar. Tapi tetap dia sendiri yang harus menentukan, mau disikapi seperti apa.

Nah, yang menjengkelkan nih… baru-baru ini, ada yang curhat, dia memang sering sekali curhat, sering sekali aku berikan alternatif2, tetapi ndak tahu apakah dia jalankan atau enggak,  atau intinya apakah dia mengupayakan jalan keluarnya atau enggak… gak ada yang tahu. Sepertinya sih enggak.

Kalaupun “solusi” yang aku sarankan nggak dipakai, ya ndak apa2, barangkali memang tidak cocok dengan situasi sebenarnya yang dia hadapi. Dia mungkin bisa dapat solusi dengan cara lain, tapi sepertinya dia Cuma berkeluh kesah tanpa upaya menyelesaikannya. Kenyataannya dia hanya curhat..curhat… dan ndak ada kemajuan dari permasalahannya… aku bilang mah itu orang bebal.

Dia curhat panjang lebar tentang suaminya, aku mendengarkan dengan seksama, lagunya mirip mirip seperti yang pernah dia sampaikan. Setelah selesai, gantian aku bertanya

Aku : “apakah kamu pernah menyampaikan ini pada keluarga suamimu?”
Dia  : “Enggak”
Aku : “Kenapa? Harusnya kamu bilang, supaya keluarganya tahu bahwa anak lelakinya yang baik di matanya, sudah menindas dan menyiksamu secara psikis”
Dia : “Nanti malah aku yang dipersalahkan”
Aku : “Apakah kamu sudah mencoba? (dia menggeleng) Intinya, kamu menyampaikan apa yang kamu alami dan rasakan. Soal nanti mereka marah, mereka menyalahkan kamu, ini kan belum pasti. Tapi yang kamu rasakan, ini adalah hal yang nyata terjadi yang mencederai perasaanmu, mereka harus tahu. Kalau kamu diam aja, mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi”
Dia : “Ah… perasaanku ndak apa-apa kog… aku nih Cuma mau cerita padamu, supaya kamu tahu bahwa suamiku yang sebenarnya itu seperti itu”
Aku : “aaaaarrrrrgggghh… capek ah… kalau kayak gini, ndak usah cerita lah, ngapain kamu ceritain kalau perasaanmu ndak apa-apa”

Beneran aku marah… marah karena diawal dia cerita soal suaminya, aku jadi sebel, kesel dan merasa diri sebagai istri yang ditindas… karena aku menempatkan diriku sebagai dirinya. Lah kog udahannya dengan enteng, dia bilang kalau perasaannya ndak apa-apa.

Trus…. curhat kayak gitu untuk apa? Perasaanku, ini kayak dia buang sampah ke aku aja. Dianya bersih dan tenang-tenang, sementara aku masih mendongkol dan marah.

kaos

Harusnya aku pakai kaos ini tapi tulisannya “Malu dong curhat sembarangan”

 

 

 

Posted in Liputan dan Opini | Leave a comment

Masa Kecil : Makan sambil berfantasi

Masih berkaitan dengan pertemuan keluarga hari minggu lalu, salah satu tamu kami, Theresa Jackson, teman lama dari Multiply, sahabat di dunia maya dan dunia nyata. Cie TJ bawakan oleh-oleh Spekulas.IMG_5677

Cie TJ cerita, kalau ini di cetak pakai cetakan kayu, bentuknya aneka macam, dan ini bukan spekulas biasa, tapi spekulas plus almond. Huaaah… sedaaap, beberapa waktu lalu waktu kami ketemuan di Jakarta, aku pernah di kasi juga, kalau makan, di gigit sedikit sedikit, sambil di emut, ndak langsung di kunyah dan telan, biar habisnya lama.

Nah..cookies ini, bersama dengan biskuit sultana, merupakan cookies kesukaan Cekkong. Jadi.. dulu itu cekkong sering beli dan menyediakan di rumah sebagai camilan. Kami cucu cucunya boleh minta. Kalau Sultana aku tak terlalu suka, karena kismisnya sering nempel di gigi.

Aku suka makan spekulas, karena bentuknya macam-macam. Kalau bisa, dapat cookie yang utuh bentuknya, trus dilihat..ini bentuk apa ya… kalau bentuk windmolen, sebelum di gigit di amati dulu, trus di putuskan.. mau makan yang mana dulu, bagian molen nya atau bagian rumahnya. Gigit pelan-pelan, sambil membayangkan diri bahwa aku adalah raksasa yang sedang melahap windmolen bagian kincirnya.

Kalau dapat bentuk binatang, biasanya singa atau gajah, bagian kepala di makan belakangan, sambil membayangkan bahwa ini adalah bagian paling enak dari kue tersebut.

Kalau ambil cookienya pas diawasi oleh cekkong, biasanya cekkong akan bilang “ambil yang ancur dulu!” haduuh.. kalau udah gitu, biasanya makan sudah ndak mikir lagi, karena hilang fantasinya, udah ndak ketahuan lagi, yang di makan ini bagian kaki atau ekor atau kepala!

Kemarin waktu aku cerita bagaimana caranya aku makan spekulas, TJ tanya “ndak kamu tempelin ke tembok kan?” hahaha… ingat aja cerita ini

Posted in Nostalgia, Tak_Terlupakan | Tagged | 5 Comments

Masa Kecil : Intuisi atau Imajinasi?

Minggu lalu, aku bersama 3 saudaraku mengajak para family berkumpul dan kangen kangenan. Karena ada yang sudah sangat lama tidak bertemu. Salah satunya kami kedatangan sepupu kami, Kwie, Yan (suami Kwie) dan Tjoe. Huaah… betapa girangnya.. meski tidak bisa ngobrol banyak, setidaknya sudah ketemu, akhir minggu nanti kami akan ketemuan lagi di Bandung.

IMG_9670

Melihat foto ini, aku jadi teringat Kopo Yok, nenek Kwie, Giok dan Tjoe. Beiau adiknya engkong dari mami, maka kami harus menyebutnya “Kopo” karena namanya Kiok, tapi lidah anak anak, panggilnya menjadi “Yok”

Aku masih bisa membayangkan Kopo Yok, tinggi kurus, berkain sarung dan berkebaya encim, rambut pendek di keriting, dengan senyum yang sabar. Padahal, masa itu, aku masih berumur 6 tahunan. Aku sering main ke rumah kopo Yok, karena cucu2nya (Kwie, Giok dan Tjoe) sebaya denganku.

***

Suatu saat, aku dan mami pergi ke Surabaya, bersama saudara yang memiliki usaha bus. Keluarga ini mengajak saudara-saudara lain untuk wisata ke Surabaya dan gunung kawi.

Kami ikut dalam bus, seperti biasa.. mami selalu membawa bekal yang cukup bisa dimakan oleh semua orang dalam rombongan. Bekalnyapun aku ingat, di bawa dalam tenong bambu bersusun, isinya nasi, trus lauk pauk. Mami juga bawa daun pisang untuk membuat pincuk, sebagai pengganti piring.

Dalam bus yang melaju, mami meracik nasi langgi di pincuk untuk kami makan, ketika bus melewati hutan jati, kami menikmati lezatnya nasi langgi yang bisa di request tanpa sambal, banyakan terik dagingnya, minta tambah telornya. Hm… tapi bukan ini inti ceritanya :-))

Di surabaya, aku ingat hotel yang kami tempati adalah hotel Semut, eh… ini hotel masih ada sampai sekarang.. tapi kelasnya hotel kecil/losmen. Suasana hotelnya mirip hotel Trio-Solo dalam foto ini. Khas hotel masa itu, ada koridor di tengah, di kanan kiri adalah deretan kamar.

IMG_9658

Hotel Trio Solo

Ketika rombongan ini pergi ke Gunung Kawi, mami dan aku, tidak ikut. Kami berdua pergi ke rumah saudara, jalan-jalan ke toko… aku di belikan spidol warna warni.. ini barang masih langka masa itu, Spidol inilah yang membuatku terkesan dengan acara jalan jalan kali ini.

Saat di hotel, kami berdua duduk di depan kamar, agak jauh dari pintu depan hotel, seingatku, mami membaca, dan aku mencoba spidol baru. Dari tempatku duduk, aku melihat Kopo Yok melintas di depan hotel. Jadi, aku spontan bilang ke mami “Mami, ada kopo Yok di depan”   “mana?”   “ itu tadi lewat di depan”

Aku yakin sekali tidak salah lihat, dan aku bilang bahwa benar, aku melihat kopo Yok jalan melintas sendiri.

Saat kami tiba kembali di Solo, kami dapat kabar kalau kopo Yok di rawat di rumah sakit, dan meninggal keesokan harinya.

Posted in Nostalgia | 5 Comments

Sebaiknya, jangan digratiskan.

Pagi ini,  di rest area, setelah isi bensin, aku mampir ke Indomaret, beli kopi di self service hot drink machine. Aku suka rasa kopi di Indomaret, meski bukan peminum kopi dan belum tentu bisa mendiskripsikan rasa kopi dengan baik, intinya, suka aja… dan harganya murah, karena 1 cup hanya Rp 8.000/cup. Pilihannya ada beberapa macam, seperti black kopi, capuchino, coffee late, mochachino, chocolate, choco late dll.

hot drink 1

foto dari google

Pilihanku, satu diantara Black coffee, Coffe late, hot chocolate.

Level ke-manisan juga bisa di atur, yang standart kalau kita tidak setting apapun, level sugar adalah 3 strip. bisa di buat 0 (nol) dan maksimal 5 strip. Lah, 3 strip bagiku sudah manis, maka biasanya aku kurangi hanya 1 atau 2 strip saja, tergantung apa yang dipilih. Kalau Black coffee, aku pakai 2 strip, kalau yang lain 1 strip saja.kopi

Pagi ini, saat akan ambil kopi, di depanku ada ibu dan seorang anak perempuan, sedang pilih Choco late tanpa setting sugar. Setelah si anak mengambil gelas coklatnya, dan menutupnya, si ibu mengambil Gula sachet yang bentuknya stik di samping mesin. Aku lihat dia ambil 4 sachet.

Ketika aku menunggu kopiku mengucur, si ibu mengambil lagi beberapa sachet gula, akupun tidak bisa menahan diri untuk komen

a: “bu… ini standartnya sudah manis lho”
b: “oh gitu ya? tapi saya suka yang sangat maniiiiiis”
a: “tambah 1 sachet gula aja udah sangat maniiis bu. Saya tuh juga suka manis, tapi tetap saja kurangi 1 strip dari standart mesin saking manisnya”
b: “ya ambil lagi kan gak apa-apa… udah di sediakan ini gulanya…”
a: ***jjjllleeeb… mingkem*** gak bisa ngomong lagi

Beberapa detik kemudian, si anak bilang kalau gelasnya panas… aku mengambilkan karton lipat yang memang di sediakan untuk blokir panas cup kopi. Tapi si ibu mengambil 1 cup kosong baru lagi… gak tahan lagi aku bilang  “Bu.. maaf.. jangan ambil cup saja tanpa beli isinya, kasihan petugas tokonya, karena cup kan juga di stok, ini jadi tanggung jawab dia”

***melengos dengan menenteng cup kosong***

Dulu itu di masa awal-awal ada KFC, dulu namanya masih di tulis lengkap Kentucky Fried Chicken, di sediakan garam dan lada dalam sachet. Kalau makan di situ, aku sering ambil lada, karena berasa lebih mantap makan sambil di cocol lada dari pada saus sambal.

Nah..beberapa kali lihat orang ambil garam dan lada tuh, segenggam, trus masuk tas. hehehe… buat bumbu kalau masak di rumah barangkali.

**

Trus.. ketika awal2 ada convenience store (7-11) jual hot dog, burger, pembeli bisa memberi topping sendiri, baik itu mayonnaise, cheese spread, mustard, pickels. Nah… ada yang nggak beli hot dog, tapi ngucurin cheese spread banyak2… trus dipakai cocolan makan potato chips.

walah…

***

Sepertinya, hal macam ini banyak dilakukan orang, karena diartikan “gratis”, boleh diambil semau-maunya.

***

Tempo hari di Singapore, Yoke pingin makan Song Fa Bakkut Teh yang terkenal di Clarke Quay. Aku sih ogah.. soale pernah liat, mau makan aja, antrenya panjang. Jadi…dia pergi sendiri makan berdua Rachel, di meja di sediakan tissue basah, masing2 anak ambil sebuah. Ternyata ini di masukin di bon tagihan. weeeh.. 40 sen kalau nggak salah, baru deh Yoke bilang  “yaaaah… kirain gratis, maka diambil” hahaha… untung dia ndak kemaruk diambil semua yang di meja.

***

Dulu sebelum harga plastik semahal sekarang, kalau belanja ke supermarket, kantong plastik di taruh begitu saja di meja kasir, jadi pembeli bisa leluasa mengambil saat packing. Ada yang tega juga ambil berlebih, untuk di bawa pulang, alasannya…. buat kantong sampah di rumah. Sekarang kantong plastik di simpan oleh kasir, dikeluarkan bila perlu aja.

Di Hongkong dan Korea kalau nggak salah, kalau belanja ke supermarket, kantong plastik itu bayar. Saat belanja di tanya, apakah perlu plastik bag? kalau iya… dia masukkan PLUnya, dan tampil di struk beberapa sen harganya. Baguslah kalau begitu, jadi kalau nggak mau bayar, bawa aja kantong/tas  sendiri.

Emang bagusnya nggak usah di gratiskan, supaya pembeli ndak semena mena mengambil.

Posted in Liputan dan Opini | 22 Comments

Pilih sorakin siapa?

Pilpres kali ini memang seru, karena Cuma ada 2 calon, dan dua-duanya terlihat kuat dukungannya. Proses pemilihanpun cukup sederhana, pilih nomor 1 atau nomor 2, sehingga meskipun jumlah TPS lebih sedikit dibanding Pileg lalu, dan jumlah pemilih lebih banyak, tapi tidak perlu antri lama. Sepertinya semua orang sudah tahu pasti mau memilih siapa saat berada di dalam bilik suara.

Saat perhitungan surat suara, banyak warga ngumpul di TPS, ingin tahu perolehan suara di situ. Ada petugas yang membuka kertas suara, dan meneriakkan nomor yang di pilih.

“SATU…”
“DUA…”
“SATU…”

Penonton menyimak dengan seksama… kecuali pak KaJe yang iseng..
“DUA…”
“DUA…”
“SATU…”
KaJe : “HOREEEEEE….” sambil tepuk tangan

Tetangga : “Lho pak KaJe pendukung nomor satu tho?”
KaJe : “Lah dari tadi sepi tidak ada yang bersorak… jadi saya mulai saja”
Tetangga : “kog bersoraknya pas yang nomor satu di bacakan? Nomor dua kog nggak di sorakin?”
KaJe : “ya ndak apa-apa… capek saya kalau sorakin nomor dua”
Tetangga : “hehe.. iya juga ya”

“DUA…”
“DUA…”
“SATU…”
KaJe dan para tetangga : “HOREEEEE….”
“DUA…”
“SATU…”
KaJe dan para tetangga : “HOREEEEE….”

Pak Yono yang rumahnya di depan TPS pun keluar rumah, dan tanya
Yono : “bukannya kalian ini pendukung nomor dua, kenapa kog soraknya buat nomor satu?”
KaJe : “pak Yono aja yang bersorak buat nomor dua ya”

“DUA…”
Yono : “HOREEEE…”
“DUA…”
Yono : “Horeeee…”
“DUA…”
Yono : “…….” udah diam sambil mesem-mesem

KaJe : “lho.. kog diam?”
Yono : “Capek ah…”
KJ dan tetangga : “HOREEEE….ha..ha..ha..”

Posted in Ngalor_Ngidul | 11 Comments

Mempengaruhi rasa Kerak telur

Minggu malam, pulang dari kondangan, melewati jalan Industri, mendekati PRJ, banyak pedagang kerak telur berderet di sisi kanan kiri jalan. Satu sama lain, hanya berjarak kurang dari 15 meter. Nyaris semuanya nganggur, nggak ada pembeli.

Saat ada celah untuk parkir, kamipun parkir, mendatangani pedagang kerak telur terdekat. Si abang masih relatif muda, aku berasa ndak yakin juga… bisa enak nggak ya kalau dia bikin? hehehe…

a: Berapa harganya bang?
b: Telur ayam 15 ribu, telur bebek 20 ribu (eh… gak gitu denger harga yang telur ayam ding… karena di otak udah ngarep ama telur bebek)
a: Hah? mahal amat? kemarin saya baca berita, katanya Ahok, harusnya harga kerak telur di bawah 10 ribu, karena harga sewanya dibikin murah
b: *senyum kecut…sambil menggeleng*
a: Kemarin saya beli di La Piaza cuma 17 ribu.. itu di mol lho bang. ini 15 ribu aja ya… bikinin 2 deh pake telur bebek
b: jangan bu… kalau 2, bayar 35 ribu ya bu..
a: enggak ah.. 30 ribu aja! *ngotot*.

Si abang nggak bilang apa-apa, tapi tangannya sudah mengisi anglonya dengan arang, dan meraih kipas.

Sambil nunggu dia bikin kerak telur, aku tanya-tanya

a: kalau jualan di sini, emang bayar sewa?
b: bayar bu…., 450 ribu
a: sebulan? (dia mengangguk) bayar ama siapa?
b: ama petugasnya PRJ. kalau makin deket PRJ makin mahal. kalau di dalam bayarnya 4 juta
a: kalau gak ada PRJ, trus abang ngapain?
b: kerja serabutan bu, seringnya ikut nukang
a: kalau sekarang ini, pagi juga kerja?
b: iya..dari jam 10 pagi udah jualan
a: hari ini udah bikin berapa?
b: ama yang ini, 6 bu
(melas amat nih orang.., dari jam 10 pagi, sampai jam 9 malam, baru bikin 6 kerak telur)

Setelah selesai, aku kasi uang 50 ribu, dia mengembalikan 20 ribu… aku kembalikan lagi 10 ribu, “gak jadi nawar dah bang…semoga makin laris dagangannya ya” si abang tersenyum lebar sambil bilang terimakasih.

Di rumah, kami makan kerak telur ini, berasa enak, lembut dan gurih. Nggak tahu bagaimana rasanya kalau aku tetap ambil kembalian 20 ribu tadi.

Posted in Ngalor_Ngidul | 1 Comment

Hari pertama Ujian Nasional SLTP, kacau

Senin, 5 Mei kemarin, aku tugas keluar kota, hingga tiba di rumah jam 23.00. Setelah aku selesai mandi dan siap2 tidur, Rachel masuk kamar, tumben2nya dia belum tidur, rupanya memang sengaja menungguku untuk cerita, ujian hari pertamanya, kacau, soalnya membingungkan.

Yang di sampaikan Rachel, seperti yang di tulis di

http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2014/05/05/kacau-unas-bahasa-indonesia-sltp-651231.html

Entah apa tujuan team Unas bikin ujian macam ini, pingin keliatan canggih? atau memang pingin menjebak anak2 SMP? Bukan mikir materi yang bener, malah bikin aneh2 aja.

Posted in Liputan dan Opini | 2 Comments

Apakah Tuhan perhitungan?

Alkisah suatu hari aku akan ke jakarta sendirian, naik kereta api. Waktu itu aku masih tinggal di Semarang.

Menjelang keberangkatan, ada masalah teknis, yang membuat ku tertahan di rumah, sehingga mepet waktu perjalanan ke stasiun KA.

Aku naik angkot ke stasiun, karena masa itu masih belum ada taxi bersliweran, atau ojek. Pilihan lainnya adalah becak, tapi bakal makin lama nyampai  stasiun kalau naik becak. Di dalam angkot ada seorang nenek yang membawa satu travel bag, bertanya apakah angkotnya sampai ke depan stasiun Tawang?

Tentu,  ini angkot memang “melewati” stasiun Tawang, tapi turunnya bukan persis di depan pagar stasiun. Di depan stasiun tawang yang berhalaman luas, ada 2 jalan yang di pisahkan dengan tanah lapang (waktu itu tanah lapang, sekarang kalau lihat di google earth, ini semacam danau). Angkot ini akan melewati jalanan yang di seberang (Jalan yang jauh dari pagar stasiun). Jadi para penumpang di turunkan di ujung jalan (aku kasi tanda X) sebelum berbelok ke jalan Merak.

tawang1

Si nenek minta penegasan “jadi…turunnya agak jauh dari stasiun ya?”  sementara itu, dengan gelisah aku melihat jam, tinggal beberapa menit lagi dari jam keberangkatan KA, akupun berhitung, setelah turun dari angkot, harus jalan cepat atau berlari, antri masuk stasiun melewati pemeriksaan karcis, belum tentu cukup waktu mengejar KA nih.

Aku bilang ke sopir angkotnya, minta ngebut dan tolong masuk halaman stasiun dan di turunkan persis depan peron karena udah mau tertinggal KA, aku tambah ongkosnya. Sopirnya dengan senang hati menuruti permintaanku, karena ongkos yang aku janjikan mungkin setara dengan 5 orang penumpang.

Sampai di peron, ternyata bukan aku dan nenek saja yang turun, ada seorang laki2 muda juga ikut turun…oooo.. syukurlah, ada teman senasib. Kami bertiga, tidak saling bicara…jalan masing-masing, cepet masuk ke peron dan naik ke KA. Beberapa detik kemudian, terdengar peluit panjang di tiup.

Aku tak merasa rugi membayar ongkos angkot berkali lipat, tak merasa menolong siapapun, karena itu kan untuk kepentinganku sendiri, meski ada orang lain yang ikut menikmati kemudahan ini. Perasaan saat itu, hanya lega. Titik.

**
Sampai di stasiun Senen, aku perlu mencari bajay, karena tujuannya  hanya sejauh Kwitang saja. Rasanya, halaman stasiun Senen belum seteratur sekarang (sekarang juga masih belum bagus, tapi sudah di atur), jadi aku berjalan sampai di sebelah gelanggang olah raga, menanti bajay. Ada seorang bapak yang juga telah menunggu bajay di situ. Dari kejauhan bajay mendekat, si bapak mendekatiku dan berkata dengan tegas  “sana cepet naik… udah… gak usah nawar…naik..naik!” aku agak bingung dan takut… tapi si bapak langsung bilang, “itu tasnya mau di copet… cepet pergi“  dia menunjuk seseorang yang sedang berjalan menjauhiku.

Benar, tas selempangku, sudah terbuka ¾ retsletingnya. Karena konsentrasi ku pada mencegat bajay sambil nenteng travel bag dan tas selempang, gak nyadar kalau di dekatku ada orang yang berniat jahat. Untung ada bapak yang menyelamatkanku.

**
Kedua kejadian itu nggak ada hubungannya, tapi beberapa teman mengomentari, bahwa karena aku telah menolong orang lain (si nenek dan si pemuda) maka Tuhan memberikan balasan pertolongan melalui si bapak.

Menurutku, Tuhan memberikan pertolongan, tanpa perhitungan pada apa yang telah kulakukan. Emang, Tuhan itu perhitungan? Menurutku, rancangan Tuhan tak bisa diduga, dan diluar hitung-hitungan ala manusia.

Kewajiban kita adalah, melakukan perbuatan yang baik, berharap akan menular menjadi perbuatan yang baik lainnya dari orang lain. Selanjutnya, terserah Tuhan.

Posted in Liputan dan Opini | 9 Comments

Sapaan

Hari minggu kemarin, ibadah di gereja di pimpin pendeta dari gereja lain. Di awal ibadah,pak pendeta menyapa umat:
Pendeta : Selamat sore saudara-saudara.
Umat : sore…. (lirih)
Pendeta : Selamat Paskah!
Umat : … (tak ada suara)
Pendeta : rupanya belum terbiasa saling menyapa di sini. (langsung pak pendeta melanjutkan ibadah)

Bertukar sapa sebenarnya mudah dilakukan, tapi tak semua orang bisa melakukan. Aku hampir 3 tahun di kantor ini, sampai sekarang masih perlu mengajarkan untuk saling menyapa.imagesFWU99WXS

Di awal berkantor di sini, aku seperti orang aneh, menyapa orang2 dengan “Selamat pagi” dan mereka membalas hanya dengan tatapan, yang masih mending membalas dengan senyuman. Setelah beberapa bulan berlalu, aku perlu menyediakan waktu untuk bicara dengan para staf dalam briefing pagi, perlunya bertukar sapa, baik saat tiba di kantor (ucapan selamat pagi) ataupun saat akan meninggalkan kantor (pamitan)

Manjur, instant, keesokan harinya, kalau mereka datang, menyapa “selamat pagi buuuu” Aku orang nomor 1 atau setidaknya nomor 2 setelah OB, yang tiba di kantor. Sebelum jam 7, aku sudah duduk manis. Aku tak pernah menutup pintu ruangan, jadi setiap karyawan yang datang, pasti melewati depan ruangan, dan bisa menyapa. Aku perhatikan, tidak semua orang menyapaku, hanya orang tertentu saja.

Setelah beberapa bulan berlalu, ajakan saling menyapa aku sampaikan lagi. Makin banyak orang yang memberiku salam “selamat pagi”. Tapi kalau aku amati, mereka hanya menyapaku, tidak saling menyapa satu sama lain. Di suatu kesempatan brifing pagi, aku menanyakan hal ini, “Siapa yang setiap pagi menyapa saya?” aku suruh angkat tangan, sekitar 80% orang angkat tangan.

I : “Oke… diantara kalian yang angkat tangan ini, siapa yang setiap pagi menyapa orang lain selain saya?” tidak ada yang angkat tangan.
I : “mengapa kalian HANYA menyapa saya?”
O : “Kan…ibu minta di sapa!”

ya ampuuuuun…..

Aku mengajak dan mengajari mereka menyapa, saling menyapa, bukan pada atasan saja, tapi satu sama lain.

Perlu waktu berbulan bulan untuk bisa membiasakan mereka. Aku mengamati, ketika di depan mataku, mereka saling menyapa selamat pagi. Tapi kalau aku sengaja ngumpet, duduk di ruang lain yang gelap, saat mereka datang, tidak ada sapaan di Antara mereka. Sehingga, aku menyimpulkan bahwa ini memang belum menjadi habit bagi mereka.

Lama kemudian, mulai terlihat bahwa diantara mereka saling menyapa, menularkan kehangatan. Aku tanya, apakah mereka menyapa cleaning service jika berpapasan di koridor? Menyapa pak satpam dipintu masuk? Saling menyapa kalau bertemu di luar kantor sekalipun? Jawabnya… tidak!

Ya, sekarang ini tahun ke tiga keberadaanku di sini, keadaan memang telah berubah, tapi ini tak cukup, karena sapaan belum menjadi kebiasaaan bagi mereka. Mereka melakukan, karena aku yang memintanya, bukan karena mereka butuh menyapa dan di sapa.

Rasanya, dulu di sekolah diajarkan, untuk saling menyapa, antar teman, juga ke guru. Tapi mungkin yang terjadi di sekolah seperti yang kualami, menyapa guru, karena disuruh oleh guru. Titik.

Rupanya memang masyarakat kita krisis budipekerti, etika, sopan santun dan empati.

Posted in Liputan dan Opini | 20 Comments

Salaman

Jabat tangan adalah satu bentuk komunikasi umum yang dilakukan orang, untuk menunjukkan perhatian, kedekatan, kegembiraan, simpati dll

ikk1

Saking umumnya jabat tangan, banyak juga orang yang menganggap jabat tangan adalah tindakan yang sepele, karena Cuma saling menempelkan tangan, belum tentu memberikan ekspresi apapun.

Pernahkah berjabat tangan dengan seseorang, yang sama sekali tidak memperhatikan dirimu? Aku sering mengalaminya. Perasaan disepelekan langsung menyergap jika itu terjadi, apalagi dengan orang yang kita kenal.

Biasanya pada acara di mana ada orang yang memang di tugasnya untuk menyambut tamu yang datang dengan berjabat tangan. Si orang ini mungkin jenuh, lelah, apalagi menyambut orang yang tidak di kenalnya langsung. Biasanya cuma mengulurkan tangan, kadang-kadang malah sambil ngobrol dengan orang di sebelahnya, sama sekali tidak melihat tamu yang sedang di salaminya.

Perasaan kita bisa berbeda jika di jabat tangan dengan erat, sambil mata menatap dan senyuman tulus. Di banding dengan jabat tangan ala kadarnya… di beri ujung tangan saja, seperti berat banget tangannya bersentuhan dengan tangan orang lain.

Di ibadah gereja, biasanya ada petugas yang menyambut jemaat yang hadir, di harapkan memberi sapaan dan jabat tangan, tetapi toh ini dianggap tugas enteng dan biasa saja, sehingga sering terjadi petugas penyambutan itu cuma mengulurkan tangan, dengan ucapan selintas  “selamat pagi/siang/sore”, sambil tangan satunya sibuk membenahi warta gereja, atau matanya tidak menatap,  sambil berbicara dengan teman sebelahnya.

Dalam liturgi juga ada acara jabat tangan, setelah pengakuan dosa, disampaikan petunjuk hidup baru, lalu saling menyampaikan salam damai. Ini juga sudah dimaknai biasa saja… bagian dari ritual.

Ada satu status di Facebook, “di gereja, setelah jemaat di ajak bersalam damai, ada petinggi gereja (maksudnya penatua kaleee) memakai cairan antiseptik untuk membersihkan tangannya…..” rupanya, orang ini tersinggung, karena dia salah satu orang yang diajak bersalaman oleh si petinggi gereja.

Aku melihat ini bukan hal yang perlu di permasalahkan, mengingat tidak semua orang menjaga kebersihan tangannya, sementara orang tersebut konsen menjaga kebersihan tangannya. Apalagi sekarang ini, membersihkan tangan bisa dilakukan di mana saja dengan cairan antiseptik.

Bagiku, tidak terlalu penting orang yang abis bersalaman dengan kita, membersihkan tangan dengan cairan antiseptic, nggak usah tersinggung. Lebih penting adalah ekspresinya saat bersalaman, Apakah jabat tangannya sekedar menempelkan tangan, atau dilakukan dengan perhatian pada yang diajak salaman.

Posted in Liputan dan Opini | 4 Comments