Lebih mahal, lebih enak?

Mumpung ingat, dan mumpung lagi mood menulis…. Lanjut soal Jepang.

Beberapa tahun lalu, ketika mengunjungi Osaka, ada guide orang Indonesia yang lama tinggal di Jepang. Suatu malam, si Guide sudah pulang, karena kami tidak ada acara lain, hanya akan makan malam dan jalan sekitar hotel saja.

Guide kami pernah menunjukkan warung ramen yang enak, cuma jual 1 macam ramen saja, jadi tidak ada pilihan lain.

Aku berdua temanku, sepakat makan ramen, sementara teman2 lain berbeda selera. Rusdi, temanku ini, tidak doyan mengunyah daging, tapi kaldunya, doyan. Jadi, meski dia tahu Ramen itu pasti pakai daging (babi), dia tetap mau makan, dengan perjanjian, nanti dagingnya di operkan ke aku.

Pergilah kami ke warung ramen yang agak rame tsb. Di depan warung, ada vending machine untuk melakukan order dan pembayaran. Di vending machine ini, ada gambar semangkuk ramen dengan telur rebus, beberapa iris daging dan sayurnya. Gambarnya cuma satu aja, tapi pilihannya ada 2.  Masing-masing pilihan ada penjelasananya, huruf jepang sih… :-), dan tercantum harganya. Yang satu 700 Yen, yang lain 800 Yen. (kalau nggak salah itu harganya… )

Waduh… apa bedanya ya? Rusdi bilang “yang mahalan aja bu, itu ibarat nasi goreng, spesial pake telor! Nanti kalau milih yang murah… saya cuma makan ramen dan kuah doang dong!” hahaha..ya udah, karena sama-sama nggak ngerti, aku pilih 2 mangkuk yang 800 yen. Tiket keluar… aku serahkan ke kitchen, tak lama kemudian, Ramen pun siap di santap.

Sebelum makan, Rusdi memindahkan potongan daging ke mangkukku. 4 potong daging tipis lebar dalam tiap mangkuk. Weeeh jadi… ramenku ada 8 iris dagingnya. Eneg juga tuh… dan tak sanggup memakannya semua.

Secara umum, tekstur ramennya halus dan kenyal, kaldunya kental dan enak, tapi tak berlemak di mulut. Kalau makan di Ikkousha aku berasa lemaknya nempel di mulut sampai berjam jam kemudian. Rasa dagingnya juga oke, sedikit aroma smokey… lemaknya sedikit.

Keesokan harinya aku menyampaikan ke si guide,  itu warung pilihannya ada 2 macam ramen, bukan 1 seperti yang dia sampaikan. Si Guide pun heran… dan ketika ada kesempatan, kami mampir ke warung itu, untuk melihat vending machinenya. Aku tanya, apa beda yang satu dengan yang lain? kata si Guide, emang cuma 1 macam ramen saja, yang lebih mahal, karena dagingnya double!

Ya ampuuun… udah tahu Rusdi akan mengoperkan daging ke aku… malah kami salah pilih yang daging double. Berarti ramenku bertoping daging 4 kali lipat dari porsi Regular!

Mantap enegnya!

Posted in Kopdar dan Jalan, Ngalor_Ngidul | Tagged , | 1 Comment

Biarpun lebih “kaya”, kurang dihargai

Suatu hari aku pergi ke Malaysia bersama beberapa rekan, termasuk 2 orang jepang. Kami menuju ke suatu kota kecil, kira kira 6 jam perjalanan dari KL.

Dalam perjalanan tersebut, saat kami selesai makan siang, saatnya memesan dessert, Mr Jepang tanya, kabarnya saat ini musim mangga? Apakah tersedia mangga? Maka kami memesan mangga sebagai penutup. Sambil menunggu mangga di sajikan, Mr Jepang bilang bahwa mangga Malaysia terkenal enak. Dia pernah beberapa kali makan mangga, tak ada yang mengalahkan mangga Malaysia.

Karena aku belum pernah makan mangga Malaysia, aku diam saja, meski hatiku mendidih dengar pendapat itu. Ketika mangga dikeluarkan… ter potong2 rapi di atas piring, ditaburi sedikit es serut untuk mendinginkannya. Warnanya kuning pucat. Dari penampilan warnanya, tidak mengesankan sebagai mangga yang enak. Benar aja, teksturnya lembut, rasanya sedikit manis, aromanya Cuma samar2. Mr Jepang memuji muji mangga itu, sambil menyuap mangga ke mulut sambil mendesah “heemmmm…… hm….” untuk mengesankan betapa enaknya yang dia makan.

Nah, sebelumnya.. ketika makanan disajikan, karena perempuannya hanya aku, aku selalu di suruh ambil duluan, lalu di tanya, bagaimana pendapatku? Setelah selesai makan, aku menyampaikan, semua makanan umumnya enak, tak ada yang tercela. Tapi bagiku, juara dari semua itu adalah tumis buncis yang renyah dan manis. Mr Jepang bilang bahwa aku memiliki selera perasa yang bagus.

Tapi saat aku menyampaikan pendapatku soal mangga, Mr Jepang bilang, mungkin lidahku sudah terbuai dengan makanan tadi. Hheeeeh… emang lidah tak bertulang.

Saat makan malam, kami dijamu oleh tuan rumah, dessertnya juga dipesankan mangga, karena Mr Jepang selalu memuji muji mangga Malaysia. Mangga ini lebih bagus warnanya, kuning lebih ke arah orange, ada sedikit rasa asam, tetap dominan rasa manis. Mr Jepang bilang, ini enak…lebih enak dari yang tadi siang. Ketika aku di tanya pendapatku, aku bilang bahwa tak ada yang bisa mengalahkan rasa mangga yang sering kumakan.

Ketika 2 hari kemudian kami meeting di Jakarta, aku sengaja bawa berbagai jenis mangga: Harum manis matang pohon asli probolinggo (kata yang jual), lalijiwo semarang (mangga gurih), Gedong Gincu, Indramayu. Sebagian aku potong dan didinginkan di lemari es. Setiap jenis mangga, aku sisakan yang utuh. Aku ceritakan masing masing jenis, terkenal di daerah mana. Bahkan dengan bangga aku bilang bahwa sekarang mangga gedong gincu dan harum manis sudah di expor ke beberapa negara.

Aku menyajikan mangga, sebagai ganti snack di tengah meeting. Jadi memang belum jam makan siang. Mr Jepang dengan antusias mencicip mangga-mangga yang matang dan rasa prima itu. Seperti biasa… kalau menikmati makanan enak, saat menyuap dengan mendesah “heeemmm… hm….” umumnya dia komentarin enak… manis… aromanya kuat. Yang lalijiwo dikomentari punya rasa unik, tak terlalu manis, tetapi ada sesuatu yang membuatnya enak. Bagi dia, juaranya justru Indramayu, dengan daging yang agak kesat tapi manis. “Enak mana dengan yang kemarin kita makan di Malaysia?” enak ini, kata Mr Jepang

Lalu menutup topik mangga, akupun menyampaikan “Nah…kan…bener saya, bahwa mangga terenak adalah mangga Indonesia. Jenisnya juga banyak, ini baru sebagian yang bisa aku dapat dan yang aku kenal, masih ada lagi mangga manalagi, golek, lengis, kweni”

Mr Jepang bilang “iya sih… tetapi karena agrikultur di Indonesia tidak di urus baik dan konsisten, saya tetap bilang kalah di bandingkan Malaysia” HAH? Katanya lagi “sekarang saya makan mangga enak, besok saya cari jenis mangga ini lagi, rasanya bisa beda, maka ini mengecewakan. Jadi, saya tidak bisa menyampaikan bahwa mangga Indonesia terkenal enak, nanti kalau saya bilang begitu, orang yang membuktikan omongan saya, belum tentu dapat yang enak!”

Haddduuuhhh…kalau mau ngomong kayak gitu, ndak usah banding2kan dengan malaysialah. Bikin kesel aja.

Beneran kesel… meski aku tahu dia suka mangga, meeting keesokan harinya nggak aku pesankan snack dan dessert. Hanya makan Bakmi GM delivery aja… ya ada basonya…ada pangsitnya sih.

Sengaja.. karena sebelumnya dia pernah komen, makan bakmi GM kayak makan mie Instan di Jepang!

** setelah emosi berlalu, aku merenung.. memang bener yang beliau sampaikan **

Posted in Ngalor_Ngidul | 6 Comments

Jangan-jangan ada yang kleptomania khusus di kantor

Setelah pernah cerita soal sendok, kali ini pisau.

Di tempat kerja, pisau merupakan barang penting. di area produksi, pisau dibedakan pemakaiannya, untuk pisau adonan dan pisau roti. semuanya berukuran besar. Nah, kadang2 tuh ya, orang suka masa bodoh, saat pisaunya tidak ketemu… main ambil aja pisau yang kegunaannya udah dibedakan.
Pernah juga pisau di pantry office, diambil untuk dipakai produksi. kebetulan ketahuan olehku saat inspeksi.. jadi selametlah itu pisau.

Sebagai gambaran… office ada di mezanin, yang mondar mandir ke atas, umumnya hanya staf admin. sementara pabrik di lantai bawah… jarang naik ke lantai atas. nah.. waktu itu aku sudah bilang, bahwa pantry itu yang mengisi barang adalah aku…barang2 pribadiku yang boleh di pakai bersama, tapi gak boleh dibawa pergi keluar pantry. tujuanku mengisi pantry, karena anak2 office kadang2 masak makan siang bersama. aku sendiri juga sering masak di situ, jadi enaklah kalau pantrynya lengkap.

Jumat kemarin, aku kehilangan pisau untuk kesekian kalinya. Mau marah… udah gak sempat lagi, karena banyak antrean kerjaan yang harus segera diselesaikan.
Ceritanya nih, teamku sedang melakukan test rasa, maka aku mengeluarkan pisauku, pisau roti pendek bergerigi, setelah test, sisa2 roti dan filling, disingkirkan. Pisau masih tergeletak di meja meeting. Aku masih meneruskan pembahasan dengan 2 orang di situ, setelah selesai, kami bubaran. Pisau kulupakan di situ.

Siang, setelah bikin brownies (iseng…karena ada sisa filling cokelat, daripada ntar rusak berjamur, kubikin brownies, untuk makan karyawan) aku mau potong2 tuh brownies, karena dibikin di loyang besar. Pisau mana pisau…? tak ada yang tahu. Tanya cleaning service, OB, orang admin karena meja kerjanya dekat dengan pintu ruang meeting… tak ada yang tahu. hah…kebangetan beneran dah. ini kesekian kalinya aku kehilangan pisau. yang terakhir ini yang bikin aku pingin ngamuk, karena ini pisau Victorinox kesayanganku.

Sebelumnya, setahun lalu, ada acara buka puasa bersama, anak2 office bikin es buah sendiri, pinjam pisau, aku pinjami pisauku…lupa apa merknya, tapi ini pisau yang dibeli dijepang. Hilang juga.

aku hitung2, sudah 5 pisau hilang di kantor. dulu salah satu managerku bilang, makanya di kasi nama… trus semua barang aku kasi nama, bolpen, penggaris, stapler, penghapus…semua muanya ada nama. Meskipun alat tulis itu tak pernah keluar dari ruanganku, pokoknya ada nama. dan bener, suatu saat bolpenku tertinggal di meja salah satu staf, besok pagi, bolpen itu kembali.

Nah, pisau.. juga di beri nama, gak main2 kasi namanya, bukan cuma pakai spidol, ada yang di grafir oleh teknisiku, hilang juga. Entahlah… kenapa aku sering kehilangan pisau di kantor. sementara cutter, baik yang besar maupun yang kecil, aman2 aja, meski sering juga dipinjam sana sini, selalu balik tak pernah hilang.

Herannya lagi, aku belikan selusin pisau harganya 48.000. bener..beli di pasar ikan, pisau murah, lumayan lah buat motong sesuatu…cuma umur ketajamannya saja yang pendek… itu pisau utuh, masih bertengger di pantry, tak pernah ada yang mengambil.

Tapi pisauku…. huh…. jangan2 di kantor ada kleptomania khusus pisauku…

Sore ini, aku baca postingan di sini

ternyata ada presiden kleptomania.. hahaha.. ngakak juga liat videonya. Coba tuh sipengambil pisau bisa ke shoot macam ini…

Posted in Ngalor_Ngidul | Tagged | 8 Comments

Ke Penjara

Hari minggu kemarin, pertama kalinya aku menginjakkan kaki ke LP (Lembaga pemasyarakatan) atau penjara. Karena aku dapat tugas, menjadi salah satu petugas ibadah di dalam LP. Ibadah di LP diadakan setiap hari minggu, dan sebulan sekali penyelenggaranya adalah gereja tempatku beraktivitas. Karena belum pernah ke LP, akupun mencari tahu, harus bagaimana bersikap, apa yang boleh dan tak boleh.

jail2

Gambaran yang aku terima, agak menyeramkan. Kami datang ber-4, 2 laki-laki, aku dan ibu pendeta yang berbaju batik biasa. Aku masuk hanya membawa alkitab dan bolpen. Rekan Pria juga hanya membawa KTP dan uang persembahan, dan beberapa kardus Mie Instant. Aku malah tidak bawa uang sama sekali… lupa saking gugupnya diriku. Semua barang di tinggal dalam mobil.

Masuk pintu gerbang, kami hanya di minta meninggalkan HP dan KTP (khusus pria). Wanita tidak diminta meninggalkan KTP, karena ini penjara khusus laki laki. Kami dipersilakan masuk ke pintu berikutnya, di pintu yang ke tiga, ada 2 orang muda berbatik yang menyambut kami, dan mengangkatkan dus mie Instant yang kami bawa. Melewati koridor beratap… ala Rumah sakit tempo dulu, kanan kiri merupakan rumput, jarak sekitar 2 atau 3 meter ada bangunan sel penjara. Aku sempat membaca, bangunan kanan adalah “Dahlia”, entah yang kiri dinamakan apa.

Aku tak berani menengok kanan kiri… padangan terus lurus ke depan, karena di setiap sudut ada penjaga yang mengawasi kami. Sementara kami berjalan, penyambut kami bilang “si Al sudah keluar senin kemarin”  rekan pria yang sudah beberapa kali ke sini bertanya “Oh ya… wah..tidak ada pemusiknya dong” “Ada… Dani, anak baru yang bisa main musik”

Si penyambut ini juga sekilas cerita, yang ikut ibadah, tidak seberapa banyak. Beberapa orang sudah keluar, termasuk Al si pemusik. Harus senang atau sedih kalau yang ibadah makin berkurang jumlahnya? Kalau di gereja umum, tentu harus diwaspadai kalau jumlah umatnya berkurang. Tapi kalau di LP, tentunya harus senang, karena banyak yang sudah keluar…bebas… selesai masa hukumannya. Mudah-mudahan tidak masuk lagi.

Setelah belok beberapa kali, kami sampai di sebuah ruangan bertuliskan “Gereja Anugerah” Dari jendela gereja ini, kanan kiri ruang terbuka, bisa melihat bangunan sel yang berjarak beberapa meter di pisahkan halaman berumput. Para Jemaat telah berkumpul di gereja tersebut. Kami jadi pusat perhatian mereka, dan akupun punya  kesempatan mengedarkan pandangan menatap wajah-wajah dalam ruangan tersebut dengan perasaan campur aduk.

Ibadah dimulai, Dani.. si pemusik dari tampangnya  berumur 20-an antara 20-25, yang memainkan keyboard di pojokan. Si Dani, main musik sambil tetap mengenakan tas selempang di bahunya. Ada 2 orang menjadi song leader. Keduanya pakai baju batik. Kalau lihat tampangnya, mereka ramah, murah senyum dan baik. Mulailah pikiranku menebak nebak, kesalahan apakah yang membuat mereka bertiga berada di sini?

Musiknya dimainkan serasa seperti organ tunggal mengiringi penyanyi pop yang rada nge-rock. Aku tak tahu istilah musiknya, tapi itu keyboard di setel ritmenya cepat, gak cocok untuk lagu iringan ibadah. Trus melodinya malah nggak kedengeran… yang kenceng adalah gonjrang gojrengnya….  Di tambah si song leader juga ndak kompak melantunkan lagunya… hehehe… Beberapa kali si ibu pendeta sampe bilang… di lambatkan..ritmenya di lambatkan.. nadanya di rendahkan dulu… ketinggian… Barulah kami menyanyi… ala sendiri-sendiri jadinya… kacau dah.

Ketika Khotbah di sampaikan, kalau sepakat dengan apa yang diucapkan ibu pendeta, mereka ada yang menyahut “amin…” Khotbah ibu pendeta tidak rumit, tapi dalam maknanya, sepertinya ini dapat di pahami oleh para warga binaan (WB). (istilah ini yang disebutkan oleh song leader)

Setelah khotbah, ada yang diminta memberikan kesaksian atau pujian, seorang WB pun maju. Dia menyanyikan sebuah lagu, dia menceritakan, lagu ini, sering dia nyanyikan bersama Bob, teman satu blok sesama WB. Sayang saat itu Bob tidak tampak hadir di gereja. Jadi, bapak ini menyanyi sendirian tanpa iringan. “Hanya dekat Allah sajalah aku tenang… daripadaNyalah keselamatanku”

Perasaan dan pikiranku makin kacau mendengar dia menyanyikan ini. Dari tampangnya ini orang, dari nyanyian yang dilantunkan, dari tindak tanduknya, semua tampak baik. Selesai ibadah, semua orang menyalami kami, aku menatap mata dan wajah setiap orang yang bersalaman denganku, Aku merasakan jabatan tangan tak ada yang ragu, semua terasa baik-baik saja. Tak kutemui tampang sangar dan menyeramkan. Sekalipun yang kujumpai orang dari berbagai etnis, termasuk orang asing berkulit hitam. Ada satu orang yang wajahnya sepertinya pernah kulihat… tapi sampai sekarang, aku tak berhasil menebak. Mungkin aku pernah melihat di tayangan TV atau koran.

Di rumah, aku membayangkan lagi wajah2 yang kutemui, apakah orang itu melakukan tindakan kriminal ringan, maling ayam? Pencuri motor? Penipu? Atau yang lebih berat lagi, pengedar Narkoba? Atau bahkan pembunuh? Wajah ramah si song leader…berkelebat…. Perbuatan apa yang menempatkannya berada di situ? Wajah seorang pemuda, putih bermata sipit berkacamata dan senyum manisnya melintas… apa yang telah dia lakukan? Sepertinya telah beberapa lama di situ, karena dia bukan memakai kemeja kuning muda. Karena kalau kemeja kuning muda, katanya dari  blok A, Blok tempat orang-orang yang belum di putus perkaranya.

Ini memang pengalaman pertamaku, perasaanku masih campur aduk, antara takut dan tak percaya, bahwa wajah2 baik yang kutemui ini adalah orang2 yang telah melakukan tindak kriminal. Aku masih terlalu polos dalam hal ini, memandang orang baik, hanya dengan sekali tatapan saja. Semoga saja, mereka ini memang dasarnya orang-orang baik, yang terperosok hanya sekali ini saja.

Posted in Tak_Terlupakan | Tagged , | 6 Comments

Memelihara malas

Suatu siang, aku pergi ke salah satu supplier, lokasinya dekat dengan kantor, jadi.. aku jalan kaki, lewat kampung, untuk mempersingkat jarak. Saat jalan pulang, di salah satu warung di ujung kampung, aku melihat Rahmat sedang duduk merokok. Aku menyapanya “Kamu masuk pagi ya?” ini beberapa belas menit setelah jam pergantian shift pagi dan siang. “Saya gak masuk bu, kan tangannya patah” dia menunjukkan tangan kirinya yang di bebat.

Aku tidak melanjutkan pembicaraan, terus aja jalan. Sampai di kantor, aku panggil personalia dan manager si Rahmat, aku tanya, sejak kapan tangannya patah. Ternyata sudah sebulan lebih Rahmat tidak bekerja.

Aku minta Rahmat di panggil, supervisor dan managernya juga. Aku tanya, badan segar bugar gitu kog ndak kerja… emang benar, tangan kirinya patah, tapi banyak pekerjaan yang bisa dilakukan tanpa harus menggunakan 2 tangan.

si Rahmat pun mengeluarkan banyak dalih, bahwa dia masih harus kontrol ke dokter, masih sering cekot2 tangannya, tidak bisa naik motor untuk pergi pulang ke kantor dan beberapa alasan lainnya. Jadi, akupun gantian memperdalam alasan2 yang dia buat.

– Berapa frekwensi cek ke dokter?  “dua minggu sekali”
– Kapan saat dia merasakan tangan cekot-cekot? “kalau tidur miring ke kiri, tangan dan bahunya tertindih”. – – Bagaimana siang kemarin dan hari ini dia bisa sampai di kantor? “Numpang dengan Nandang” (karyawan juga, yang rumahnya berdekatan dengan Rahmat)

Nah kan…jawaban jawabannya kan ndak nyambung dengan statement pertamanya.
Akupun memaksa Rahmat tetap masuk bekerja, dialihkan ke bagian lain, dengan pekerjaan ringan yang bisa di kerjakan dengan satu tangan saja.

malas
Hal macam ini sering terjadi, mereka berdalih sakit, kecelakaan, trus tidak masuk dalam jangka waktu lama. Si supervisor dan Manager juga cuek aja, karena merasa “memperhatikan anak buah sakit”, bukan bagian dari pekerjaan.

padahal, banyak orang2 yang cuma mengarang alasan untuk bisa tidak bekerja.
Misalnya….sakit maag nya kambuh. Kenapa? habis minum kopi. Lah udah tahu kalau punya sakit maag, udah tahu kalau kopi bakal bikin sakitnya kambuh… kenapa minum juga? **diam**

Misalnya…..diare. Lah… ini dalam rentang waktu setahun, diare bisa sampe 7 kali. kali ini, kenapa diarenya? kebanyakan makan pedas. Lain kali diare lagi… alasannya, makan kepedesan. Trus kan di tegor, kalau emang makan pedas bikin diare, ya jangan sengaja makan pedas dong, berarti kamu tidak perhatian dengan diri sendiri. eh…. suatu saat diare lagi…. alasannya “salah makan” salah makan gimana? harusnya makan tahu tapi salah menelan batu? lain kali diare lagi… di tanya kenapa… jawabnya “gak tahu nih kenapa…pokoknya mules aja”

Jadi nih ya…. orang yang nggak masuk karena alesan sakit, aku suruh atasannya atau personalia tanya, sakit apa? sudah ke dokter belum? apa treatmentnya? bagaimana keluarganya? (kalau misalnya flu.. keluarganya tertular jugakah?) makanya harus jaga kondisi, makan yang bener, waktunya istirahat harus dipakai sebagai istirahat, dll.

Weeh… nanya begitu aja kudu di suruh? Tapi ini bagian untuk mengikis ketidakpedulian orang2 di sekitar. Selain itu, jika semua supervisor atau manager mempedulikan anak buahnya, akan ketahuan mana yang bohong atau mana yang sakit beneran. Jadi ketahuan juga mana yang rajin dan mana yang suka memelihara malas.
Nah kalau ketemu orang yang memang malas dan selalu punya alasan, misalnya kayak diare itu… akupun bilang “awas ya kalau sampai diare lagi… berarti kamu tidak bisa menjaga tubuhmu sendiri, kalau tubuh sendiri aja tidak terjaga, bagaimana saya bisa mempercayai kamu bisa menjaga pekerjaanmu?”

Biasanya ampuh, tidak diare lagi. Eh.. alesannya sakit maag, sakit kepala, sakit ulu hati, ambien, alergi, turun berok.

nah karena udah begini… maka bikin kebijakan baru, berobat harus ke klinik rujukan! surat keterangan sakit harus dari dokter klinik rujukan!

Posted in Ngalor_Ngidul | Tagged | Leave a comment

Curhat yang seperti buang sampah

Ketika ada orang curhat padaku, aku menempatkan diriku sebagai dirinya, supaya dapat mendengar dan merasakan, apa yang dia rasakan, sehingga bisa jadi tempat berbagi beban.

Setelah curhat, ndak mungkin kan kita diam-diam saja?  “…oh ya udah.. aku sudah memberikan waktu dan kupingku untukmu, bahkan bahu untuk bersandar”

Biasanya juga di sertai dialog, untuk memperjelas untuk membantu mencarikan solusi.

Misalnya nih, ada yang curhat tentang kehidupan rumah tangganya, trus aku tanya “kalau pas di depan keluarganya, bagaimana sikap suamimu?” atau “Kalau lagi berdua, bagaimana sikap suamimu terhadapmu” atau “bagaimana kamu menyikapinya?” atau “bagaimana dengan anakmu” dll

Kadang kadang, berdasarkan jawaban itu, kita bisa memberikan alternative jalan keluar. Tapi tetap dia sendiri yang harus menentukan, mau disikapi seperti apa.

Nah, yang menjengkelkan nih… baru-baru ini, ada yang curhat, dia memang sering sekali curhat, sering sekali aku berikan alternatif2, tetapi ndak tahu apakah dia jalankan atau enggak,  atau intinya apakah dia mengupayakan jalan keluarnya atau enggak… gak ada yang tahu. Sepertinya sih enggak.

Kalaupun “solusi” yang aku sarankan nggak dipakai, ya ndak apa2, barangkali memang tidak cocok dengan situasi sebenarnya yang dia hadapi. Dia mungkin bisa dapat solusi dengan cara lain, tapi sepertinya dia Cuma berkeluh kesah tanpa upaya menyelesaikannya. Kenyataannya dia hanya curhat..curhat… dan ndak ada kemajuan dari permasalahannya… aku bilang mah itu orang bebal.

Dia curhat panjang lebar tentang suaminya, aku mendengarkan dengan seksama, lagunya mirip mirip seperti yang pernah dia sampaikan. Setelah selesai, gantian aku bertanya

Aku : “apakah kamu pernah menyampaikan ini pada keluarga suamimu?”
Dia  : “Enggak”
Aku : “Kenapa? Harusnya kamu bilang, supaya keluarganya tahu bahwa anak lelakinya yang baik di matanya, sudah menindas dan menyiksamu secara psikis”
Dia : “Nanti malah aku yang dipersalahkan”
Aku : “Apakah kamu sudah mencoba? (dia menggeleng) Intinya, kamu menyampaikan apa yang kamu alami dan rasakan. Soal nanti mereka marah, mereka menyalahkan kamu, ini kan belum pasti. Tapi yang kamu rasakan, ini adalah hal yang nyata terjadi yang mencederai perasaanmu, mereka harus tahu. Kalau kamu diam aja, mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi”
Dia : “Ah… perasaanku ndak apa-apa kog… aku nih Cuma mau cerita padamu, supaya kamu tahu bahwa suamiku yang sebenarnya itu seperti itu”
Aku : “aaaaarrrrrgggghh… capek ah… kalau kayak gini, ndak usah cerita lah, ngapain kamu ceritain kalau perasaanmu ndak apa-apa”

Beneran aku marah… marah karena diawal dia cerita soal suaminya, aku jadi sebel, kesel dan merasa diri sebagai istri yang ditindas… karena aku menempatkan diriku sebagai dirinya. Lah kog udahannya dengan enteng, dia bilang kalau perasaannya ndak apa-apa.

Trus…. curhat kayak gitu untuk apa? Perasaanku, ini kayak dia buang sampah ke aku aja. Dianya bersih dan tenang-tenang, sementara aku masih mendongkol dan marah.

kaos

Harusnya aku pakai kaos ini tapi tulisannya “Malu dong curhat sembarangan”

 

 

 

Posted in Liputan dan Opini | 2 Comments

Masa Kecil : Makan sambil berfantasi

Masih berkaitan dengan pertemuan keluarga hari minggu lalu, salah satu tamu kami, Theresa Jackson, teman lama dari Multiply, sahabat di dunia maya dan dunia nyata. Cie TJ bawakan oleh-oleh Spekulas.IMG_5677

Cie TJ cerita, kalau ini di cetak pakai cetakan kayu, bentuknya aneka macam, dan ini bukan spekulas biasa, tapi spekulas plus almond. Huaaah… sedaaap, beberapa waktu lalu waktu kami ketemuan di Jakarta, aku pernah di kasi juga, kalau makan, di gigit sedikit sedikit, sambil di emut, ndak langsung di kunyah dan telan, biar habisnya lama.

Nah..cookies ini, bersama dengan biskuit sultana, merupakan cookies kesukaan Cekkong. Jadi.. dulu itu cekkong sering beli dan menyediakan di rumah sebagai camilan. Kami cucu cucunya boleh minta. Kalau Sultana aku tak terlalu suka, karena kismisnya sering nempel di gigi.

Aku suka makan spekulas, karena bentuknya macam-macam. Kalau bisa, dapat cookie yang utuh bentuknya, trus dilihat..ini bentuk apa ya… kalau bentuk windmolen, sebelum di gigit di amati dulu, trus di putuskan.. mau makan yang mana dulu, bagian molen nya atau bagian rumahnya. Gigit pelan-pelan, sambil membayangkan diri bahwa aku adalah raksasa yang sedang melahap windmolen bagian kincirnya.

Kalau dapat bentuk binatang, biasanya singa atau gajah, bagian kepala di makan belakangan, sambil membayangkan bahwa ini adalah bagian paling enak dari kue tersebut.

Kalau ambil cookienya pas diawasi oleh cekkong, biasanya cekkong akan bilang “ambil yang ancur dulu!” haduuh.. kalau udah gitu, biasanya makan sudah ndak mikir lagi, karena hilang fantasinya, udah ndak ketahuan lagi, yang di makan ini bagian kaki atau ekor atau kepala!

Kemarin waktu aku cerita bagaimana caranya aku makan spekulas, TJ tanya “ndak kamu tempelin ke tembok kan?” hahaha… ingat aja cerita ini

Posted in Nostalgia, Tak_Terlupakan | Tagged | 5 Comments

Masa Kecil : Intuisi atau Imajinasi?

Minggu lalu, aku bersama 3 saudaraku mengajak para family berkumpul dan kangen kangenan. Karena ada yang sudah sangat lama tidak bertemu. Salah satunya kami kedatangan sepupu kami, Kwie, Yan (suami Kwie) dan Tjoe. Huaah… betapa girangnya.. meski tidak bisa ngobrol banyak, setidaknya sudah ketemu, akhir minggu nanti kami akan ketemuan lagi di Bandung.

IMG_9670

Melihat foto ini, aku jadi teringat Kopo Yok, nenek Kwie, Giok dan Tjoe. Beiau adiknya engkong dari mami, maka kami harus menyebutnya “Kopo” karena namanya Kiok, tapi lidah anak anak, panggilnya menjadi “Yok”

Aku masih bisa membayangkan Kopo Yok, tinggi kurus, berkain sarung dan berkebaya encim, rambut pendek di keriting, dengan senyum yang sabar. Padahal, masa itu, aku masih berumur 6 tahunan. Aku sering main ke rumah kopo Yok, karena cucu2nya (Kwie, Giok dan Tjoe) sebaya denganku.

***

Suatu saat, aku dan mami pergi ke Surabaya, bersama saudara yang memiliki usaha bus. Keluarga ini mengajak saudara-saudara lain untuk wisata ke Surabaya dan gunung kawi.

Kami ikut dalam bus, seperti biasa.. mami selalu membawa bekal yang cukup bisa dimakan oleh semua orang dalam rombongan. Bekalnyapun aku ingat, di bawa dalam tenong bambu bersusun, isinya nasi, trus lauk pauk. Mami juga bawa daun pisang untuk membuat pincuk, sebagai pengganti piring.

Dalam bus yang melaju, mami meracik nasi langgi di pincuk untuk kami makan, ketika bus melewati hutan jati, kami menikmati lezatnya nasi langgi yang bisa di request tanpa sambal, banyakan terik dagingnya, minta tambah telornya. Hm… tapi bukan ini inti ceritanya :-))

Di surabaya, aku ingat hotel yang kami tempati adalah hotel Semut, eh… ini hotel masih ada sampai sekarang.. tapi kelasnya hotel kecil/losmen. Suasana hotelnya mirip hotel Trio-Solo dalam foto ini. Khas hotel masa itu, ada koridor di tengah, di kanan kiri adalah deretan kamar.

IMG_9658

Hotel Trio Solo

Ketika rombongan ini pergi ke Gunung Kawi, mami dan aku, tidak ikut. Kami berdua pergi ke rumah saudara, jalan-jalan ke toko… aku di belikan spidol warna warni.. ini barang masih langka masa itu, Spidol inilah yang membuatku terkesan dengan acara jalan jalan kali ini.

Saat di hotel, kami berdua duduk di depan kamar, agak jauh dari pintu depan hotel, seingatku, mami membaca, dan aku mencoba spidol baru. Dari tempatku duduk, aku melihat Kopo Yok melintas di depan hotel. Jadi, aku spontan bilang ke mami “Mami, ada kopo Yok di depan”   “mana?”   “ itu tadi lewat di depan”

Aku yakin sekali tidak salah lihat, dan aku bilang bahwa benar, aku melihat kopo Yok jalan melintas sendiri.

Saat kami tiba kembali di Solo, kami dapat kabar kalau kopo Yok di rawat di rumah sakit, dan meninggal keesokan harinya.

Posted in Nostalgia | 5 Comments

Sebaiknya, jangan digratiskan.

Pagi ini,  di rest area, setelah isi bensin, aku mampir ke Indomaret, beli kopi di self service hot drink machine. Aku suka rasa kopi di Indomaret, meski bukan peminum kopi dan belum tentu bisa mendiskripsikan rasa kopi dengan baik, intinya, suka aja… dan harganya murah, karena 1 cup hanya Rp 8.000/cup. Pilihannya ada beberapa macam, seperti black kopi, capuchino, coffee late, mochachino, chocolate, choco late dll.

hot drink 1

foto dari google

Pilihanku, satu diantara Black coffee, Coffe late, hot chocolate.

Level ke-manisan juga bisa di atur, yang standart kalau kita tidak setting apapun, level sugar adalah 3 strip. bisa di buat 0 (nol) dan maksimal 5 strip. Lah, 3 strip bagiku sudah manis, maka biasanya aku kurangi hanya 1 atau 2 strip saja, tergantung apa yang dipilih. Kalau Black coffee, aku pakai 2 strip, kalau yang lain 1 strip saja.kopi

Pagi ini, saat akan ambil kopi, di depanku ada ibu dan seorang anak perempuan, sedang pilih Choco late tanpa setting sugar. Setelah si anak mengambil gelas coklatnya, dan menutupnya, si ibu mengambil Gula sachet yang bentuknya stik di samping mesin. Aku lihat dia ambil 4 sachet.

Ketika aku menunggu kopiku mengucur, si ibu mengambil lagi beberapa sachet gula, akupun tidak bisa menahan diri untuk komen

a: “bu… ini standartnya sudah manis lho”
b: “oh gitu ya? tapi saya suka yang sangat maniiiiiis”
a: “tambah 1 sachet gula aja udah sangat maniiis bu. Saya tuh juga suka manis, tapi tetap saja kurangi 1 strip dari standart mesin saking manisnya”
b: “ya ambil lagi kan gak apa-apa… udah di sediakan ini gulanya…”
a: ***jjjllleeeb… mingkem*** gak bisa ngomong lagi

Beberapa detik kemudian, si anak bilang kalau gelasnya panas… aku mengambilkan karton lipat yang memang di sediakan untuk blokir panas cup kopi. Tapi si ibu mengambil 1 cup kosong baru lagi… gak tahan lagi aku bilang  “Bu.. maaf.. jangan ambil cup saja tanpa beli isinya, kasihan petugas tokonya, karena cup kan juga di stok, ini jadi tanggung jawab dia”

***melengos dengan menenteng cup kosong***

Dulu itu di masa awal-awal ada KFC, dulu namanya masih di tulis lengkap Kentucky Fried Chicken, di sediakan garam dan lada dalam sachet. Kalau makan di situ, aku sering ambil lada, karena berasa lebih mantap makan sambil di cocol lada dari pada saus sambal.

Nah..beberapa kali lihat orang ambil garam dan lada tuh, segenggam, trus masuk tas. hehehe… buat bumbu kalau masak di rumah barangkali.

**

Trus.. ketika awal2 ada convenience store (7-11) jual hot dog, burger, pembeli bisa memberi topping sendiri, baik itu mayonnaise, cheese spread, mustard, pickels. Nah… ada yang nggak beli hot dog, tapi ngucurin cheese spread banyak2… trus dipakai cocolan makan potato chips.

walah…

***

Sepertinya, hal macam ini banyak dilakukan orang, karena diartikan “gratis”, boleh diambil semau-maunya.

***

Tempo hari di Singapore, Yoke pingin makan Song Fa Bakkut Teh yang terkenal di Clarke Quay. Aku sih ogah.. soale pernah liat, mau makan aja, antrenya panjang. Jadi…dia pergi sendiri makan berdua Rachel, di meja di sediakan tissue basah, masing2 anak ambil sebuah. Ternyata ini di masukin di bon tagihan. weeeh.. 40 sen kalau nggak salah, baru deh Yoke bilang  “yaaaah… kirain gratis, maka diambil” hahaha… untung dia ndak kemaruk diambil semua yang di meja.

***

Dulu sebelum harga plastik semahal sekarang, kalau belanja ke supermarket, kantong plastik di taruh begitu saja di meja kasir, jadi pembeli bisa leluasa mengambil saat packing. Ada yang tega juga ambil berlebih, untuk di bawa pulang, alasannya…. buat kantong sampah di rumah. Sekarang kantong plastik di simpan oleh kasir, dikeluarkan bila perlu aja.

Di Hongkong dan Korea kalau nggak salah, kalau belanja ke supermarket, kantong plastik itu bayar. Saat belanja di tanya, apakah perlu plastik bag? kalau iya… dia masukkan PLUnya, dan tampil di struk beberapa sen harganya. Baguslah kalau begitu, jadi kalau nggak mau bayar, bawa aja kantong/tas  sendiri.

Emang bagusnya nggak usah di gratiskan, supaya pembeli ndak semena mena mengambil.

Posted in Liputan dan Opini | Tagged , , , | 23 Comments

Pilih sorakin siapa?

Pilpres kali ini memang seru, karena Cuma ada 2 calon, dan dua-duanya terlihat kuat dukungannya. Proses pemilihanpun cukup sederhana, pilih nomor 1 atau nomor 2, sehingga meskipun jumlah TPS lebih sedikit dibanding Pileg lalu, dan jumlah pemilih lebih banyak, tapi tidak perlu antri lama. Sepertinya semua orang sudah tahu pasti mau memilih siapa saat berada di dalam bilik suara.

Saat perhitungan surat suara, banyak warga ngumpul di TPS, ingin tahu perolehan suara di situ. Ada petugas yang membuka kertas suara, dan meneriakkan nomor yang di pilih.

“SATU…”

“DUA…”

“SATU…”

Penonton menyimak dengan seksama… kecuali pak KaJe yang iseng..

“DUA…”

“DUA…”

“SATU…”

KaJe : “HOREEEEEE….” sambil tepuk tangan

Tetangga : “Lho pak KaJe pendukung nomor satu tho?”

KaJe : “Lah dari tadi sepi tidak ada yang bersorak… jadi saya mulai saja”

Tetangga : “kog bersoraknya pas yang nomor satu di bacakan? Nomor dua kog nggak di sorakin?”

KaJe : “ya ndak apa-apa… capek saya kalau sorakin nomor dua”

Tetangga : “hehe.. iya juga ya”

“DUA…”

“DUA…”

“SATU…”

KaJe dan para tetangga : “HOREEEEE….”

“DUA…”

“SATU…”

KaJe dan para tetangga : “HOREEEEE….”

Pak Yono yang rumahnya di depan TPS pun keluar rumah, dan tanya

Yono : “bukannya kalian ini pendukung nomor dua, kenapa kog soraknya buat nomor satu?”

KaJe : “pak Yono aja yang bersorak buat nomor dua ya”

“DUA…”

Yono : “HOREEEE…”

“DUA…”

Yono : “Horeeee…”

“DUA…”

Yono : “…….” udah diam sambil mesem-mesem

KaJe : “lho.. kog diam?”

Yono : “Capek ah…”

KJ dan tetangga : “HOREEEE….ha..ha..ha..”

Posted in Ngalor_Ngidul | Tagged | 11 Comments