Jangan cuma teori

Minggu lalu, di salah satu milis yang kuikuti, ada teman share pengalaman, saat mengendarai mobil dan berhenti di perempatan jalan, sempat mengamati pengemis, dan dia terkesan dengan salah satu pengemis, tetapi tidak memberikan uang, temanku ini memberikan sangunya…buah jeruk pada pengemis yang menerima dengan sukacita.

Dari diskusi ini, ternyata ada beberapa teman yang memang sengaja sangu biskuit kemasan kecil, susu dalam tetrapack, untuk pengemis kecil, yang biasanya di berdayakan oleh orang dewasa. Kalau nggak ngasi….kasihan, kalau ngasi duit…kog ya berarti menyetujui tindakannya… jadi…dikasi sesuatu yang bisa langsung di nikmati oleh anak2 tsb. Emang ini bukan tujuan menyelesaikan masalah, memberantas atau mengubah kehidupan mereka.

Aku bertekad akan menyediakan susu, biskuit, kalau bepergiaan. Ada kemungkinan kalau akan di makan juga oleh Rachel …biarlah…bawanya ya…jangan cuma satu. Paling enggak… cara ini bisa sebagai cara pembelajaran buat anak2 ku juga.

Beberapa tahun lalu, mungkin dua atau tiga tahun lalu, aku bertiga dengan anak-anak ke pasar Sunan Giri, trus mereka pingin makan baso di tengah pasar itu. Begitu kami duduk, ada anak perempuan umur 6 atau 7 tahun mengemis padaku.

+ Kamu sudah makan belum?
(menggeleng)
+ Makan yuk..sini… mau apa? baso atau soto mie?
(menggeleng)
+ Kenapa? ayo..sama2, ada kakak dan adik juga (aku menunjuk yoke dan rachel) nggak usah malu (aku sudah berprasangka…jangan2 maunya duit aja nih…)
(suara lirih) kalau boleh…di bungkus aja bu.
+ Ada siapa di rumah?
– Adek
+ Berapa adeknya?
– dua
+ Gini dah….kamu makan di sini, ntar ada lagi yang di bungkus buat adek.
(menggeleng lagi) di bungkus aja bu……

ya wis… dia milih baso pakai bihun, aku suruh bungkus 3, di pisah bihunnya. Sambil nunggu pesanan, aku tanya, orang tuanya kerja apa? Katanya ibunya kerja di pasar cipinang…dia tidak tahu kerja apa… Bapaknya tidak ada lagi. Dia sekolah kalau pagi, katanya di sekolah ada yang membayari uang sekolahnya. Dia ngemis, hasilnya buat beli makan membantu ibunya.

Minggu lalu, ditengah kemacetan, aku melihat 3 orang anak mengerubuti nasi bungkus dan sedang makan ramai-ramai. Nasinya di gelar di trotoar di atas bungkus kertasnya, mereka memuluk (makan pakai tangan tanpa sendok) nasi itu. Aku tunjukkan adegan itu ke Rachel, seketika Rachel bilang “Ma… dulu kan ada anak pengemis dibeliin baso di pasar….ntar kalau ketemu lagi…dibelikan lagi ya ma, kasihan…” wah…ini udah lamaaaa sekali, tapi ternyata, masih melekat di ingatan Rachel. Coba kalau cuma teori yang di sampaikan……..

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

62 Responses to Jangan cuma teori

  1. elkaje says:

    linagladman said: pasti banyak anak yang diajarin jadi preman juga, bahkan mungkin dikasih drugs ….. menakutkan sekali potret bangsaku

    iya..diperalat buat keuntungan orang dewasa. sebel…sedih…

  2. rasti812 says:

    elkaje said: pengemis kecil, yang biasanya di berdayakan oleh orang dewasa. Kalau nggak ngasi….kasihan, kalau ngasi duit…kog ya berarti menyetujui tindakannya… jadi…dikasi sesuatu yang bisa langsung di nikmati oleh anak2 tsb.

    *Sedih banget mikir nasib anak-anak jalanan*..=(…semoga semakin banyak yang seperti mbak Ine dan kawan-kawan..

  3. elkaje says:

    rasti812 said: *Sedih banget mikir nasib anak-anak jalanan*..=(…semoga semakin banyak yang seperti mbak Ine dan kawan-kawan..

    semoga masalah ini cepat teratasi, dan berkurangnya anak2 jalanan yang mengenaskan ini ya.

  4. kuenyaoyan says:

    ide-nya bagus mbak … tak tiru ya .. miris lihat pengemis anak2 dijalanan ..apalagi bulan Ramadhan ini kok ya makin banyak …..

  5. estherlita says:

    iya itu Yana, kayaknya tau kalau ramadhan orang pada kasih sedekah, langsung deh pada mumpungin…kadang budaya juga yang bikin orang jadi pe minta2… mencari jalan yang mudah.

  6. kuenyaoyan says:

    estherlita said: iya itu Yana, kayaknya tau kalau ramadhan orang pada kasih sedekah, langsung deh pada mumpungin…kadang budaya juga yang bikin orang jadi pe minta2… mencari jalan yang mudah.

    iya mbak …. sampean Ramadhan jadi alasan … sedekahnya bu …bulan puasa bu ..gitu ….

  7. elkaje says:

    pantes….rasanya makin banyak aja pengemis akhir2 ini.

  8. makanenak says:

    makanenak said: Bacaan insipiratif buat yang niat membuat dunia ini a better place to live:- “Banker to the Poor: The Autobiography of Muhammad Yunus, Founder of Grameen Bank” – “Banker to the Poor: Micro-Lending and the Battle Against World Poverty”

    Selamat kepada Professor Muhammad Yunus, penerima Nobel Perdamaian 2006. Sudah saatnya beliau mendapat penghargaan ini atas jasanya yang sangat besar dalam membasmi kemiskinan di seluruh dunia. Komite Nobel telah membuat pilihan yang tepat dengan memilih sosok empatis dan tulus, dengan keberanian moral yang tangguh dan teruji serta integritas tinggi seperti Professor Muhammad Yunus, “The Power of One” yang rendah hati dan tak banyak bunyi.

  9. cutyfruty says:

    Rasanya selalu trenyuh ya melihat pemandangan seperti itu.

  10. elkaje says:

    makanenak said: Komite Nobel telah membuat pilihan yang tepat dengan memilih sosok empatis dan tulus, dengan keberanian moral yang tangguh dan teruji serta integritas tinggi seperti Professor Muhammad Yunus, “The Power of One” yang rendah hati dan tak banyak bunyi.

    tinggal implementasinya….mudah2an banyak yang bisa belajar dari beliau

  11. elkaje says:

    cutyfruty said: Rasanya selalu trenyuh ya melihat pemandangan seperti itu.

    pasti Sri, tapi kog ya masih banyak orang nggak punya hati, tega memeras anak2 spt ini

  12. makanenak says:

    elkaje said: tinggal implementasinya….mudah2an banyak yang bisa belajar dari beliau

    Setuju, Ci. Saya banyak belajar dari Professor Muhammad Yunus, Aung San Suu Kyi, dan Dr. Inge Genefke. Belajar dari orang berjiwa besar seperti mereka menguatkan saya agar jangan putus asa dalam berbuat baik menolong sesama dan dalam mengentaskan kekejaman manusia terhadap sesama. Kita semua dapat mulai dari yang kecil dan sederhana dengan menggunakan prinsip 3M-nya Aa Gym dan “The Power of One.” Professor Muhammad Yunus juga mulai dari hal yang kecil, memberi pinjaman dari kantongnya sendiri kepada beberapa wanita miskin di desa Jobra, Bangladesh. Kisah singkatnya dapat dibaca di sini. Buku autobiografi beliau sangat enak dibaca dan inspiratif. Gak bisa berhenti deh bacanya. Mudah-mudahan ada terjemahan Indonesianya.Kemaren saya dengar diradio wawancara dengan Prof. Muhammad Yunus. Saya tidak bisa kutip persis apa yang beliau ucapkan, tapi intinya sebagai berikut:- Beliau belajar menjadi manusia yang empatis dari ibunya yang suka menolong kaum miskin.- Jika beliau melihat sesuatu yang salah dalam masyarakat, beliau melakukan sesuatu untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Tidak berpangku tangan acuh atau apatis. Tapi mengambil tindakan, berani buka mulut dan doing the right thing—>prinsip 3M dan keberanian moral meskipun beresiko tinggi.Bayangkan betapa besar pengaruh orangtua terhadap anaknya. Apa yang Cici lakukan akan membekas dalam hati Yoke dan Rachel, yang pada gilirannya akan melanjutkan tongkat kebaikan ini kepada generasi seterusnya dan orang-orang di sekelilingnya, membentuk lingkaran kebaikan. Saya juga melihat bahwa orangtua yang bersih KKN juga cenderung menghasilkan anak-anak yang bersih KKN, meskipun anak-anak tersebut harus berjuang lebih keras. Tapi nilai moral yang ditanam orangtua mereka membekas dalam. Andaikan semua orangtua bisa seperti itu, Indonesia tentu akan menjadi negara yang aman sejahtera dalam waktu singkat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s