Kalau bukan cinta… apa namanya ini?

di RCTI baru2 ini ada sintetron seri pendek “Buku Harian Nayla”. Ceritanya
tentang Nayla umur 15 tahun yang terserang penyakit ataxia yang tak
tersembuhkan, menyebabkan lumpuh secara bertahap bahkan berujung kematian.

Inti ceritanya sih…Nayla dalam keterbatasan daya dan waktu, selalu pingin
memberi arti pada sisa hidupnya. Moses cowok yang mencintai Nayla, bahkan
mau mengawini Nayla meski kondisinya sudah sangat parah.
Cerita berakhir dengan kematian Nayla setelah hari pernikahannya.

Bagaimana mungkin Moses yang kaya, pintar dan ganteng, tetap mau mencintai
Nayla bahkan menjadikannya istri? Ini memang cerita sinetron yang fiktif
dan di dramatisir. Tapi aku juga pernah menyaksikan sendiri kejadian yang
sebenarnya…mirip seperti ini.

Salah satu rekan kerjaku, sebut saja ibu Dee (sekarang sudah pensiun), ibu
dari 3 orang anak yang pinter pinter dan cakep cakep. Dee sendiri seorang
pekerja keras, karena dia telah bercerai dan harus menghidupi ke 3 anaknya.

Suatu saat anak bungsunya berumur 18 tahun kecelakaan motor, terluka parah
dan menyebabkan kelumpuhan dari leher ke bawah. Ini pukulan berat bagi Dee,
yang harus menanggung semuanya seorang diri. Dua anak yang lain masih
kuliah, mantan suami sepertinya tak ambil pusing.

Tiap hari Dee merawat anak bungsu, menyediakan makanan, memandikan,
menceboki, mendudukkan si anak di depan komputer sebelum Dee berangkat
kerja. Biarpun ada perawat khusus, tapi banyak hal yang harus dia kerjakan
sendiri, sebagai wujud perhatian dan cinta kasih pada anak bungsu. Treatment
masih diberikan secara berkala, meski harapan untuk sebuah kemajuan…sangat
tipis.

Anak bungsu ini sudah punya pacar sejak sebelum kecelakaan terjadi, si Cewek
terus setia dengan si Bungsu. Karena kelumpuhan total ini, orang tua si
cewek tentu kuatir kalau anaknya terpaku pada si Bungsu. si Cewekpun di
sekolahkan di Australia, untuk memisahkan dengan si Bungsu, dengan
harapan….pupus cintanya karena keadaan dan jarak.

Tapi mereka masih saling berkomunikasi dengan komputer. Aku tak tahu
bagaimana si bungsu mengoperasikan komputer, karena aku tak pernah tega
bertanya pada Dee.

Sampai si Cewek selesai kuliah, dan bekerja di Jakarta, mereka masih
berhubungan, bahkan memutuskan menikah 2 tahun lalu.

Pernikahan ini tak direstui orang tua si cewek. Mereka keluarga berada, si
cewek juga punya fisik sempurna, cantik dan pintar. Orang tua mana yang bisa
merelakan putrinya menikah dengan si Bungsu?

Dee pun merasa serba salah, kalau dia melarang pernikahan yang “nggak masuk
akal” ini, dia akan membunuh kebahagiaan si bungsu. Mungkin ini satu2nya
kebahagiaannya. Kalau merestui….lha kan tanggung jawab yang sangat berat
pada keluarga si cewek.

Mereka menikah di sebuah gereja, tanpa di hadiri orang tua si cewek. Aku
hadir dalam pemberkatan nikah ini. Kedua mempelai maju ke altar, seseorang
mendorong kursi roda dengan si Bungsu yang duduk terkulai, si cewek berjalan
tegak di sisinya dengan menebar senyum bahagia. Pemakaian cincin pernikahan
dilakukan oleh si cewek ke sang suami dan dirinya sendiri.

Ketika semua tamu memberi salam, si bungsu pun cuma terkulai dengan senyum
dan lirih berkata “terimakasih”. Tangannya tak mampu membalas jabat tangan
para tamu.

Duuh…hatiku dipenuhi keharuan menyaksikan ini. Kalau bukan karena
cinta…. apa namanya ini?

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

53 Responses to Kalau bukan cinta… apa namanya ini?

  1. elkaje says:

    admonike said: Udah lama banget engga nonton sinetron, sampe pas denger soundtrack sinetron ini.. wah, jadi kepengen tahu ceritanya.. Ternyata sinetron ini emang disiapkan buat Natal 2006 ya. Jadi pengen tahu film versi jepangnya.. Katanya kisah nyata lho…Aku suka banget juga sama lagunya..

    thks teksnya Monike, Nikita nyanyinya bagus sekali ya….

  2. mylianov says:

    ternyata ada juga ya kejadian nyata yg kayak gini, kirain cuma sinetronđŸ˜€ salut banget ama si cewek ya Mbak, jadi brasa minder & iri dengan kebesaran hatinya.

  3. elkaje says:

    ada Li…lha di china tuh, dah di filmkan, kisah nyata.. aku review juga “Kasih tak terbatas”ini keajaiban cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s