#8 KWB : Catering Jaran Kepang

Salah satu pelanggan yang akhirnya jadi teman baik mami, seorang budayawan keturunan Tiong Hoa ternama di Solo, Go Tik Swan. Beliau kalau memanggil mami “mbakyu”. memanggil papi dengan “Mas Win”

Sekarang ini aku kog merasakan, panggilan “mbakyu” ini sangat menggetarkan hati, apalagi diucapkan oleh seorang priyayi yang santun dan berwibawa, dengan intonasi khas Solo.

Meski namanya sudah berganti, dengan gelar KRT (Kanjeng Raden Tumenggung), mami masih memanggilnya “Mas Go”, kamipun memanggilnya “Oom Go”.

Oom Go ini bisnisnya batik dan barang antik, dan sering mendatangkan wisatawan ke rumahnya, yang sekaligus jadi galeri seninya. Ketika merencanakan ada rombongan wisatawan, Oom Go dengan cermat mempersiapkannya, agar warna Lokal bisa ditampilkan dengan memikat, dari kesenian, makanan, pelayanan dan produk yang dijualnya. Catering pun di serahkan ke mami, dengan pesan kudu tradisional dan cocok dengan lidah para turis, harus tertata cantik. Kalau Lemper, ya harus di bungkus kodok, khas tradisionil, tapi lebih boros daun pisang.

Awug mutiara, harus di contong dengan daun pisang yang masih ijo tak bercacat. Nagasari, harus yang warna alami, gak boleh nagasari biru…ntar menimbulkan kengerian saat memakannya.

Rumah Oom Go, berdekatan dengan rumah orang tuanya, selisih 3 atau 4 rumah di jalan yang sama, dan bagian belakang rumah ini tembus. Sehingga kedua tanah rumah ini berbentuk huruf U. Bagian belakang kedua rumah ini, digunakan untuk memproses kain batik tulis.

Jika ada acara yang berlangsung di rumah Oom Go, dapur yang di pakai adalah di rumah orang tuanya, di bagian belakang. Ada tempat luas untuk meracik makanan. Sementara para tamu2 wisatawan asing ini, di persilakan duduk menghadap panggung terbuka di rumah Oom Go, melihat pertunjukan sebelum melihat proses membantik atau belanja di galeri..

Biasanya atraksi yang di suguhkan, Jaran Kepang (Kuda Lumping). Ini penuh mistis, dan menimbulkan keheranan bagi para turis. Para pemainnya bisa makan beling (pecahan kaca), mengupas kelapa hanya dengan gigi, tidak kesakitan ketika di cambuk.

Kadang2 ada reog Ponorogo juga, dan di ceritakan ke para turis bahwa topeng reog ini bisa bertahan di kepala karena di gigit, bukan di ikat. Ini membuat para turis takjub dengan kekuatan gigi si pemain reog. Tapi reog jarang di tanggap… lebih sering jaran kepang.

Aku ikutan nonton, meski dari pinggir pendopo. Tak ada rasa takut atau ngeri, dan nggak bertanya ini kejadian mistis atau realistis. Jangan di kira, kalau aku ikut ke sini, boleh bersenang senang…oooh..tidak… ini juga untuk bekerja. (alesan hihihihi…)

Meskipun aku masih kecil, tapi aku bisa jadi matanya mami, yang selalu ada di rumah sebelah sedang meracik makanan. Saat pertunjukan berlangsung, aku harus menghitung, berapa jumlah turis yang ada di situ. Trus harus menyusup ke dalam galeri, untuk melihat, masih ada yang nggak duduk manis supaya terhitung juga. Lalu lari ke rumah sebelah melaporkan ke mami, berapa jumlah orangnya. Ini untuk antisipasi, agar makanan yang akan di bagikan cukup untuk semuanya.

Yang aku ingat makanan yang sering di pesan, biasanya sepiring nasi dengan lauk pauknya lengkap. Seperti nasi kuning, nasi langgi dengan nasi yang gurih, nasi liwet dll. Ini umumnya di sukai para turis, apalagi dengan penataan yang cantik dan sentuhan tradisional yang menonjol.

Pramusajinya biasanya para pembatik di rumah itu, yang berpakaian kemben bagi yang perempuan, dan beskap lurik bagi yang lelaki. Selesai acara, mereka langsung membatik lagi, masih dengan kostum abdinya..

Entah… gimana perasaan para turis itu, melihat pertunjukan jaran kepang… yang di suguhi atraksi “sadis”, kadang2 orangnya mendekati para turis duduk, sambil membawa sepiring potongan beling dan mengkremusnya langsung seperti mengkremus kripik kentang aja.

Aku sering melihat krenyitan dahi dan seringai ngeri atau jijik melihat ini. Selesai acara makan beling, mereka sendiri (para turis) di suruh makan… meski nasinya cantik.

Ya…rasanya waktu itu makanan sering termakan, jarang sekali orang yang nggak doyan, paling yang di tinggalkan adalah nasi yang terlalu banyak porsinya untuk mereka, atau sambal goreng ampela ati yang terlalu pedes
untuk lidah mereka..

Berkat sering menangani catering acara jaran kepang ini, mami juga ikutan di tanggap di keraton (lupa keraton mana, Kasunanan atau Mangkunegaran) untuk acara wayang kulit atau acara apa… gak ingat juga.

Di situlah aku melihat tarian bedaya Srimpi…gerakannya lemah gemulai bener2 bikin ngantuk lunglai….. Aku demen melihat kulit para penarinya yang putih mulus, gerakannya yang klemar klemer, bagiku sangat sensual.

Wah…kalau wayang kulit, beneran setengah mati deh… kudu ikutan melek semalam suntuk, karena tidak bisa di pastikan, kapan makanan bisa di sajikan. Kayaknya cuma sekali atau dua kali, abis itu nggak pernah mau lagi.

* poto dapat dari http://www.peacemaking.com/indonesia/images/kuda.html

This entry was posted in KWB. Bookmark the permalink.

59 Responses to #8 KWB : Catering Jaran Kepang

  1. elkaje says:

    nonigustami said: Cik Ine, ceritanya menarik & lugas, kenapa ndak dibuat buku saja? :)Salam…

    nunggu penerbit Non🙂

  2. coolbutcher says:

    Cik Ine,Salam kenal ya.Cie,.. itu Om Go nya masih ada gak ya sampai sekarang ? dan apakah pabrik batiknya masih berjalan ? wah saya pingin sekali bisa lihat pertunjukan kaya gitu lagi,.. dulu waktu kecil di kota mami saya, Gombong di Jateng, sering banget kalau lagi liburan sekolah saya di ajak lihat Jaran Kepang,…Sekarang sudah susah dan jarang,…

  3. elkaje says:

    coolbutcher said: Cie,.. itu Om Go nya masih ada gak ya sampai sekarang ?

    Salam kenal juga, Beberapa waktu lalu di Metro TV acara Maestro kalau ndak salah, masih di tampilkan KRT Hardjonagoro (Oom Go)

  4. nonigustami says:

    elkaje said: Salam kenal juga, Beberapa waktu lalu di Metro TV acara Maestro kalau ndak salah, masih di tampilkan KRT Hardjonagoro (Oom Go)

    Chi Ine,maaf…barusan saya terima kabar dari milis Sahabat Museum bahwa Oom Go telah berpulang. Ini cuplikan emailnya:Dari: bakhtiar.az Kepada: SahabatMuseum@yahoogroups.com; tourismindonesia@yahoogroups.com; bandung-heritage@yahoogroups.com; artculture-indonesia@yahoogroups.com; bppi-HE@yahoogroups.comTerkirim: Rabu, 5 November, 2008 20:39:56Topik: [SahabatMuseum] berita duka dari soloTelah berpulang ke hadirat ilahi kanjeng panembahan hardjonagoro -go tikswan- hari rabu 05 nop 2008 pukul 19.00 wib. dan akan dimakamkan kamistgl 6 nopember 2008 jam 11.00 wib di pemakaman danyung solo.belio dikenal sebagai seorang keturunan tionghoa / cina yang mengabdikanseluruh jiwa raga dan hartanya untk kebudayaan jawa, belio dikenalsebagai ahli keris, ahli batik, dan sejarah jawa.semoga arwah belio mendapat ketenangan dan tempat yang layak disisi NYA.. aminbakhtiar soloSaya turut berduka cita ya, Ci… :((

  5. Ikut berduka-cita dengan kepulangannya juga…

  6. dewijoris says:

    Udah lama nggak mampir sini dan baca-baca sharingmu Ci’…yang ini menarik sekali…pengalaman masa kecil Ci’ Ine kaya banget ya…you are so blessed!

  7. elkaje says:

    nonigustami said: Chi Ine,maaf…barusan saya terima kabar dari milis Sahabat Museum bahwa Oom Go telah berpulang. Ini cuplikan emailnya:

    thks ya Non, kemarin aku juga posting soal meninggalnya beliau

  8. oothose says:

    Waduh jadi iri ma masa kecilnya Cie Ine, kayaknya kok berwarna banget he..he..he..

  9. ehasriswanti says:

    Iya Wi, asik baca tulisan mba Ine tentang masa kecilnya ataupun pengalaman yang lainnya….penuh warna bikin aku senyum-senyum…makasih dah sharing ya mba

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s