Uang receh vs prepaid card

Pengembalian supermarket berupa permen, sering di protes konsumen, baik langsung ke kasir, atau bahkan sampai ke surat kabar terkemuka. Ini sebenarnya sudah sering terjadi, bukan saja di supermarket/minimarket, tapi juga di pasar dan di tukang sayur. Tukang sayur lebih kreatif lagi, pengembalian bukan berupa permen saja, tapi bisa trasi, penyedap rasa, sambel sachet, bumbu dapur dll. Dan ini memang menyebalkan pembeli.

Herannya uang receh sulit sekali di dapatkan, meski ini uang dinyatakan masih berlaku. Mau tukar ke bankpun, harus ke BI. di BI juga belum tentu bisa dapat. Bank sendiri juga suka menolak uang receh, karena dianggap merepotkan.

Beberapa tahun lalu waktu aku bekerja di distributor, kasir kami sering kewalahan, karena menerima pembayaran uang logam. Perlu orang khusus yang kerjanya menghitung dan mengemas berjuta juta uang logam ini. Uang sudah di sortir sesuai nominalnya, lalu di kemas sangat rapi berbentuk tabung, dengan nominal tertentu. Lalu, ketika uang ini akan di setor ke bank, banknya pun menolak setoran uang logam, alasannya, nggak sempat menghitungnya. Setelah di nego, barulah mereka mau dengan maksimal nominal tertentu saja tiap hari.Jadilah uang logam di setornya nyicil tiap hari sampai habis.

Sekarang ini, cari uang receh susahnya bukan main. Dari cerita teman yang bertanggung jawab dengan supermarket/minimarket di beberapa daerah, ada berbagai cara ditempuh, supaya bisa mendapatkan uang receh untuk kembalian di toko mereka supaya tidak dikomplen pelanggan.

Di daerah Tangerang, temanku itu mendapat penukaran uang receh dari pabrik kecap. Janjian seminggu dua kali mereka ambil uang receh di beberapa pabrik kecap. Yang di Yogya, mencari uang receh sampai harus menempuh puluhan kilometer ke luarkota, sampai ke Karanganyar Tawangmangu, demi mendapat sekitar 20-50 juta uang receh. Ini pun masih kena biaya penukaran 2 %. Ada lagi di satu daerah, dapat uang recehnya dari kepala pengemis, nggak tanggung2 biaya penukarannya bisa 4 %.

Bagiku sendiri, mengantongi uang receh memang berat dan merepotkan, maka sejak ada prepaid card, aku ikutan mengganti uang tunai dengan kartu bayar tsb.

Dulu yang mempelopori pertama kali kalau nggak salah bank Bali, dengan e-walet. Tapi nggak sukses. Lalu ketika BCA meluncurkan Flazz, tergiurlah aku untuk pakai Flazz, karena berbagai promosinya. Belanja dengan Flazz dibeberapa tenant, bisa discount 20%. eh…sekarang udah nggak ada lagi promo-promonya kayak di gambar ini Selain itu, yang lebih praktis lagi, bayar parkir di beberapa tempat, sudah bisa pakai Flazz juga. Tapi ini gak berlangsung lama, ketika aku akan top up (isi ulang) tuh kartu, eh…

ATMku di tolak oleh mesin ATM non tunainya. Coba di beberapa mesin, tetap di tolak. Akhirnya aku di sarankan ganti kartu baru, karena menurut BCA, kartu ATMku dah kuno, sehingga nggak di kenali oleh mesin ATM non tunainya. Padahal kalau tarik tunai masih tokcer tuh. Setelah ganti Kartu awal januari, sampai sekarang kartu baru pun masih nggak dikenali oleh ATM Non Tunai. Nasib…..merepotkan juga, cuma aku belum sempat komplen aja ke BCA. Jadi, kartu Flazznya sekarang nganggur dengan saldo belasan ribu rupiah.

Kartu prepaid lainnyanya, Indomaret Card, ini keluaran bank Mandiri, aku juga pakai, lumayan lah kalau belanja2 di Indomaret nggak usah bawa uang tunai, dan nggak repot dengan kembalian. Bedanya dengan debit cart, ini kan nggak usah pakai PIN. Jadi kalau nyuruh mbak ke Indomaret, bisa membekali dengan kartu ini. nanti slipnya juga keluar saldo awal, transaksi dan saldo akhirnya. Cuma sayangnya belum semua Indomaret bisa mengakses kartu ini, baru di Jabotabek saja, inipun juga belum semuanya.

Bagiku yang nggak punya rekening bank Mandiri, pakai Indomaret card cukup mudah, karena bisa top-up (isi ulang) kartu di toko Indomaret dengan uang tunai, dan bantuan kasirnya. Beli kartu awal masih gratis sampai sekarang, padahal kalau flazz kan kudu bayar 25 ribu.

E-toll, nah ini keluaran bank Mandiri juga. Tapi nyatanya, dari 5 kali berencana memakai e-toll, cuma sekali saja suksesnya. Alasannya di operator “kartunya rusak…coba komplen ke banknya” Ntar komplen ke bank, dapat jawaban, “oh..datanya yang bermasalah, kartu sih nggak kenapa-napa, ntar 2 hari lagi di coba ya” Setelah 2 hari di coba kata operator di jalan tol “alat EDCnya rusak”. tobat.. eh..kemarin sore sudah bisa lagi.

Sebenarnya enak juga kalau e-toll sudah lancar, kita nggak usah repot menghitung berapa kembaliannya dengan seksama. Eh… ini baru di tol dalam kota yang bayarnya semua sama Rp 5.500. Entah di jasamarga sudah bisa belum ya?

Paling enak lagi, satu card, bisa buat bayar di mana saja. Eh…paling enak mah, itu kartu gak usah di top up, tapi bisa buat mbayar terus2an :-)) (MAUNYAAAAA…)

This entry was posted in Liputan dan Opini. Bookmark the permalink.

58 Responses to Uang receh vs prepaid card

  1. elkaje says:

    hihihihi…kowe emang nyleneh Ndra

  2. elkaje says:

    yang nyetor Ammar ndiri? bagus tuh pelajaran menabung yang sesungguhnya.

  3. elkaje says:

    di sini ini, banyak juga pembeli yang belagu, dikasi kembalian 50 rupiah, di cuekin, nggak diambil koinnya. Kalau di kasi kembalian permen, marah2. Nggak di kasi kembalian…apalagi… ntar kasirnya dituduh mau korupsi 50 rupiah

  4. fitrids says:

    gimana besok2 mba Ine bawa permen di kantong, buat genapin belanja hihihi.. jadi asal bayar ada receh nya.. ya bayar rupiah plus permen :-))

  5. elkaje says:

    udah jarang bayar pakai uang tunai Fit, bayarnya sering pakai card.

  6. cecepnk says:

    Mbak Ine, kalau saya sih ngak pusing deh sama duit kecil. Karena sampe ke SPRMRKT manapun saya ladeni karena di kantong sudah siapkan 500, 200, 100, 50 dan 25. Hayo…biar tuh kasir, kecut kalau urusan pembulatan uang….

  7. elkaje says:

    Dompetmu pasti tebal ya Cep. hehehehe….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s