# 15 KWB : Onde onde dan warisan wajan gumpil

Suatu siang yang panas terik, di Semarang, mami bertemu dengan Kopo Oen di jalanan, mami naik beca, Kopo Oen jalan kaki. KoPo Oen ini adiknya kakekku, mami memanggilnya Ko Oen (namanya Oen), “Ko” ini kalau cara Jawa budhe/bulik (bibi). Ko (ada dialek lain yang menyebut “Ku”) adalah bibi dari pihak ayah. Kalau kami anak2, sebagai cucu, memanggilnya Ko-Po (Po (ada dialek lain menyebut “Bo”) = nenek)

Waktu itu ko Po Oen sedang berjalan kaki sambil membawa payung, untuk membeli makan siangnya sendiri. Padahal, Ko Po tinggal serumah bersama anak, menantu dan cucu. Tetapi mereka pisah makan. Jadi, ko Po mengurus dirinya sendiri, dan cari makan sendiri.

Mami yang tegas, galak dan sekaligus lembut hati alias nggak tegaan, seketika mengajak KoPo yang sudah renta ini, tinggal di Solo bersama kami. Mangan ora mangan ngumpul bareng. Langsung saat itu juga, KoPo diantar ke rumahnya, untuk ambil barang2, dan diajak tinggal di Solo. Kehadiran koPo di rumah kami, membuatku merasa mempunyai nenek yang bisa dijadikan tempat bermanja.

Padahal, rumah kami sudah penuh sesak, tapi ini nggak dijadikan pertimbangan oleh mami, yang penting, KoPo bisa mendapat perhatian lebih, dan mendapatkan kehangatan dalam sebuah keluarga di masa tuanya.

Aku ingat, tidur seranjang bertiga dengan Ko Po, sekamar berlima, saking sudah nggak ada tempat lagi di rumah. Tapi masa itu, kami juga nggak terganggu, malah kalau aku kenang lagi, banyak hal manis yang aku rasakan bersama KoPo.

Hampir tiap sore KoPo, membuatkan kami makanan selingan, ya bubur sumsum, kolak, puding, pisang goreng, jolobio, ketan bubuk dll Kesukaanku adalah bubur ketan hitam. Bubur ketan hitam buatan KoPo, bagiku, paling enak sedunia (ini ngikuti iklan batu batery masa itu..nomor satu di dunia). Sekarang sih, udah nggak ingat lagi diskribsi enaknya di mana.

Selain bikin makanan selingan sore hari, mami memberi pekerjaan, agar Ko Po tidak menganggur.dan punya penghasilan. Ini bukan memperbudak orang tua, tapi justru memberi kesibukan yang berguna. KoPo di suruh membuat onde onde dan di jual di warung Babat. Supaya tiap hari, KoPo punya kesibukan mempersiapkan dagangannya sendiri.

Tiap siang, dia akan memilih kacang ijo dan wijen. Dipilih butir per butir, supaya kacang ijonya bersih, nggak kecampuran kedele, dan mengolahnya sendiri menjadi kumbu isi onde onde. Kumbu buatan KoPo legit dan kuning bersih, karena kacang ijonya pilihan, dan di kupas secara seksama. Gula untuk kumbupun, dibikin sirup dulu, lalu di saring dengan kain, bener2 teliti dan bersih.

Wijen untuk onde2, harus putih bersih, tak ada sebutirpun yang hitam/coklat, ini juga karena dipilih satu persatu. Tepung sih beli di pasar kayaknya, nggak kuat numbuk sendiri. Kadang2 bikin juga onde2 isi tangkueh (labu air yang dibuat manisan)

Tiap pagi, kopo bangun jam 4, membuat onde2 dan menggorengnya sendiri, .perabotan masaknya, dia bersihkan sendiri. (aku pernah ceritakan sedikit di sini

Onde-ondenya di jual di warung babat. Hampir tiap hari, jualannya pasti habis tak bersisa, karena enak. Pagi2, banyak pengunjung warung babat yang cari onde2 hangat dan masih renyah, sebagai appetizer🙂

Uang hasil bikin onde2, bisa dibelikan peniti emas dan perhiasan emas lainnya. KoPo bisa punya tabungan dari berjualan onde2. KoPo sangat hemat, tapi tidak pelit, aku kadang2 juga di kasi uang jajan olehnya, diajak jalan2 ke sekaten, dibelikan mainan kodok2an, peralatan masak mini tanah liat atau beli brondong.

Beda … ketika KoPo tinggal bersama anaknya, KoPo memang tidak di suruh kerja, tapi juga tidak di rawat. Ketika tinggal bersama kami, KoPo memang di beri pekerjaan, sehingga dia bisa melewati hari2 tuanya dengan suka cita, karena merasa berguna dan mendapat kasih sayang keluarga..

Suatu pagi, papi bangun jam 4 seperti biasa, persiapan buka warung. Penghuni lain belum bangun, biasanya jam segitu, para pembantu juga ikut bangun. Papilah yang bertugas membuka pintu depan, melihat gundukan kain di tempat cuci, suasana masih remang2 karena lampu belum dinyalakan.

Ketika di dekati, ternyata ini bukan gundukan taplak meja, tetapi KoPo Oen yang sudah tergeletak tak bernyawa. Pakaian KoPo, berupa kain sarung dan kebaya encim, jadi saat terjatuh pun terlihat seperti gundukan kain.

Sedih banget, karena sama sekali tak disangka, KoPo tak pernah mengeluh sakit, meninggal mendadak.Ketika kami membereskan barang2 KoPo, beliau sangat apik dan rapi. bajunya tertata rapi. bahkan simpanan uang tabungannya di tata sangat rapi. Kalah tuh pegawai bank:-)

Hari itu tak jadi buka warung, bahan makanan yang disiapkan untuk jualan, dialihkan untuk para tamu yang melayat. Ini terjadi di awal tahun 70-an, mungkin 1971, tapi suasana saat itu serasa masih tergambar jelas di memoriku.

Ini wajan baja hitam yang dulu di gunakan kopo membuat onde-onde tiap pagi. Aku masih memakainya sampai sekarang, aku menyebutnya wajan gumpil, karena wajan ini tak mulus pinggirnya. Justru gumpil inilah, yang membuat wajan ini unik dan kenangan akan kopo membekas selalu di hatiku.

Jangan2, umur wajan ini lebih tua dari umurku sendiri…

This entry was posted in KWB. Bookmark the permalink.

62 Responses to # 15 KWB : Onde onde dan warisan wajan gumpil

  1. elkaje says:

    salam kenal Asri, thks sudah berkunjung

  2. elkaje says:

    kalau buat kebaya encim, penitinya lebih sederhana kali Rit

  3. elkaje says:

    terimakasih Put

  4. elkaje says:

    barangkali umurnya 76-an

  5. coniyb says:

    sweet memory mbak ine,memang ya,orang tua harus diberi kegiatan,biar sehat.disuruh diem aja, malah jadi sakit.

  6. rafriti says:

    sambil baca sambil sedih mba…semangat kopo hebat bgt…dan ga nyusahin anak2nya.adakah yg nerusin jualan onde2 di warung babat sekarang mba..?

  7. Ci.. Henny suka sekali baca cerita ini.. Sambil baca sambil ngebayangin jalan ceritanya… tfs

  8. tlss says:

    jadi ikutan sedih Ne……

  9. milkaw says:

    Ikutan nimbrung untuk melengkapi cerita. Tepung ketannya dibuatkan di Ik May Hwa. Setiap hari KoPo Oen ke Kanggotan untuk ambil tepung ketan. Onde-onde buatannya selalu enak dan empuk sekalipun sudah sore dan tidak hangat lagi, ya karena selalu memakai tepung ketan yang baru.

  10. elkaje says:

    ooh..gitu ya, thks tambahannya, iya onde2 yang dibuat dari tepung ketan siap pakai… beda hasilnya dengan tepung ketan yang baru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s