Siapa yang masih kecil?

Minggu lalu, sekolah Rachel mengadakan perkemahan semalam, semua anak kelas 6. Beberapa minggu sebelum acara, pihak sekolah sudah membuat surat ke orang tua, yang isinya cukup lengkap dan jelas. Antara lain, susunan acara di tempat terbuka, dan apabila hujan, sudah di siapkan acara dan tempat penggantinya. Bahkan pada hari itu, sekolah libur, karena semua guru di kerahkan untuk mengawal acara perkemahan ini.

Semua anak antusias mempersiapkan perkemahan ini, status2 FB mereka hampir semuanya ngomongin perkemahan. Tapi ada juga satu anak yang tidak pergi, kata Rachel, alasan ortunya, si anak ini, alergi matahari, alergi debu, alergi nyamuk, alergi udara malam. huahaha… kasihan bener kalau benar begitu.

Di acara itu, anak2 di bagi kelompok, tiap kelompok di wajibkan membuat tenda sendiri, dan ini di lombakan kekompakan, kekuatan dan kerapian kelompok.

Makan siang, karena anak2 masih sibuk dengan tendanya, para guru menyediakan lunch box. Ketua kelompok sudah mengambil jatah anggotanya, Dan membagikan pada para anggotanya, kecuali…satu anggota, Jesi, tak tampak. Tapi yang muncul maminya Jesi, minta jatah makan siang Jesi.

Guru pembimbing tidak mau memberikan, dan mengatakan, Jesi harus datang sendiri dan makan bersama kelompoknya. si Mami gak terima, lalu pergi ke guru lain, sampai ke kepala sekolah yang juga ikut mengawasi perkemahan ini. Jawabannya sama. Rupanya, Jesi “disandera” maminya di mobil, karena si mami kuatir, nanti kecapean.

Anak2 kelompok sudah mulai sebel aja, waktu kegiatan sore, Jesi sudah ikut bergabung lagi… tapi.. kemanapun Jesi melangkah, di ikuti oleh pembantunya. Jesi nggak boleh manjat, Jesi nggak boleh main lumpur, Jesi nggak boleh hujan2an.

Ketika malam hujan, anak2 tidak jadi tidur di tenda, tapi tidur di pendopo tempat perkemahan tsb. Jesi yang pingin ikut tidur rame2 bersama kelompoknya, tak berdaya ketika di suruh tidur di mobil oleh maminya.

Rupanya, ketika Jesi sudah tertidur, maminya membawanya pulang ke rumah. dan pagi harinya Jesi diantar lagi ke tempat perkemahan. Betapa keselnya teman2 sekelompoknya, karena ada satu anggota yang nggak senasib sepenanggungan. Dan mereka tahu, bahwa biang keroknya bukan Jesi, karena Jesi sendiri pingin bisa seperti teman2nya.

Ada satu teman yang emosional, sampe bilang “gue pingin tonjok maminya Jesi, mosok…katanya Jesi kan masih kecil… padahal sebenernya dia sendiri yang masih kecil, karena mami yang lain nggak ada yang kayak dia”

huahaha…

emang sih, itu mami kog nggak nyadar ya, bahwa yang dia lakukan justru mempermalukan anaknya sendiri. Menganggap anaknya gak mampu melakukan aktivitas tsb, menganggap guru2nya nggak mampu menjaga.

This entry was posted in Ngalor_Ngidul. Bookmark the permalink.

16 Responses to Siapa yang masih kecil?

  1. eddyjp says:

    Ha..ha.ha..tapi kudu dicari tau juga, apakah memang sederhana seperti itu situasinya, ataukah ada hal tentang Jesi yang tak diketahui oleh temannya dan pihak sekolahan ?Jika nggak, jelas emaknya masih terlalu kecil untuk ditinggalin sama Jesi..he.he.he.

  2. ningnong says:

    emaknya gak bisa tidur klo gak ada Jesi.. hehehehe

  3. ibuseno says:

    hahaha.. jadi inget anakku Seno yg sakit, trus aku samperin ke sekolah eh malah malu dia… iya ternyata hal2 gitu malah bikin malu anak ya Cie Ine..mending kasih kesempatan dan berikan kepercayaan sm anak2 toh mrk juga ada yg ngawasi kan

  4. upik2806 says:

    cupu2nya selama ikut kegiatan itu justru jadi kenangan setelah besar yg jadi bahan ketawaan rame2 loooh….hihihi

  5. elkaje says:

    gak tau juga ya Ed, tapi ini celetukan anak2 soal maminya Jesi itu.. apaadanya, dan kocak

  6. elkaje says:

    mungkin juga Ning.. hehehe..

  7. elkaje says:

    yak..betul. anak tanggung gini ini, dah merasa malu kalau sering2 dikuntit ortu, dan gak mau di cap anak mami

  8. elkaje says:

    harusnya ya… sayang juga tuh Jesi nggak sepenuhnya bisa ikut.

  9. Cie Ine, thanks ya sudah sharing ceritanya…bagus sekali buat berbagi pengalaman org lain buat kita hehehe… Apalagi saya yg jauh dari tanah air, wuuuiih senang bacanya membayangkan situasi perkemahan plus pake hujan hehehe….

  10. chenmarlin says:

    Ci Ine, thanks for sharing, saya juga agak protective, kemana-mana saya antar, sekarang sudah secondary 1, temannya pernah tanya : apakah kamu sudah boleh pergi sendiri ke plaza ?. Disini camp pergi dengan guru dan bus jadi ortu nggak mungkin ikut, tetapi pada hari ke 2, ortu boleh berkunjung untuk menjenguk.

  11. fjaco says:

    duhh kasihan ya jadi Jesi… mamanya super duper protective banget, apa dulunya waktu kecil mamanya juga protective banget. Kalo enggak khan pastilah dia ngijinin…udah gitu Jessi penurut ya, good girl😀

  12. lyan42 says:

    hahahahaha…. emang masih banyak mami2 yang over protektif seperti itu. Kasian anaknya ya Ci…

  13. dev38 says:

    seru juga ceritanya Ci, bisa buat pelajaran buat para ‘mami’…..

  14. nanakar says:

    Cik Ine,Saya jadi kangen masa2 itu. Selain sendiri sudah tua, ga mungkin kemah lagi, anak2 juga udah gede2 ga ada lagi kegiatan spt itu.Saya menikmati cerita2 cik Ine, udah balek lagi ya kekegiatan semula, menulis :)Salam utk keluarga. Tuhan memberkati

  15. over bgt mami Jesi…kasian bgt, Jesi jadi gak punya pengalaman yang seru, yang gak akan hilang sampai besar..kayaknya mami Jesi mesti sekolah lagi deh…hiks!

  16. arijoko says:

    Itu sih maminya tidak mendidik anaknya untuk mandiri namanya …hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s