Makan Meja : Ikut aturan main tuan rumah

Makan meja, istilah untuk sitting party, ala chinese restoran, ada yang menyebut juga Cia Ciu. Yaitu makan bersama dalam satu meja kapasitar 10-12 orang .  Entah kenapa istilah di bahasa Indonesia jadi “makan meja”.

Makanan akan mengalir mulai dari soup, appetizer, main course sampai dessert, semuanya porsi untuk 10 orang (sesuai kapasitas meja). Makanya, kalau orang menyelenggarakan makan meja, selalu diminta memenuhi kapasitas meja yang ada, supaya makanan tidak berlebih dalam satu meja. Karena biaya yang di bayar adalah biaya paket per meja.

Aku diundang oleh seorang teman baik, yang mantu anak perempuannya. Beliau mengadakan pesta kecil, khusus untuk keluarga dekat saja, dan beberapa orang teman dekat. Tak banyak yang di undang, meja yang disediakan hanya 10-13 meja saja.

Temanku, menyiapkan pesta ini dengan seksama, membuat daftar undangan, dan mencantumkan kartu RSVP pada undangan, yang bisa di respons dengan pos, email atau SMS. Aku langsung SMS menyatakan kesediaan hadir berdua bersama suami.

Rupanya, 2 minggu sebelum pesta, temanku dan istri perlu menghubungi lagi orang2 yang dia undang, untuk memastikan kehadiran/ketidak hadirannya, karena dari 60 undangan yang dia sebar, hanya 7 yang memberikan respons.

Temanku ini perlu memberitahukan secara khusus, bahwa dia akan mendata dan menghitung secara seksama Tamu yang pasti datang, karena jamuannya akan ala Makan Meja, agar kedua belah pihak nyaman. Nyaman bagi si penyelenggara pesta, nyaman juga bagi para tamunya.Salut! ini bagian dari sosialisasi perlunya RSVP.

Karena udah di beritahu, bahwa pestanya makan meja, aku datang tepat waktu, nggak seenaknya sendiri seperti kalau datang di pesta prasmanan pada umumnya di Jakarta. (eh.. banyak yang masih nggak sopan.. datang sangat2 telat)

Di masing-masing meja berkapasitas 10 orang ini, telah di tulis nama yang di undang, beserta jumlah anggota keluarganya. Misalnya Elkaje (2), Hendro (5), Wawan (1), Andi (2). Angka dalam kurung itu jumlah anggota keluarga yang akan duduk di meja tsb.

Temanku dan istrinya, dengan seksama mengatur tempat duduk para undangannya ini. Mengelompokkan orang2 berdasarkan kecocokan. misalnya sepupu dari pihak istri, di kumpulkan semeja, dari pihak suami di meja yang lain, keponakan di kumpulkan dengan keponakan, biar orang2 muda saling mendekatkan diri.  Sementara diriku, di kumpulkan semeja dengan sepupunya yang berasal dari Semarang

Mejaku ada di satu sudut yang lumayan strategis untuk mengamati hiruk pikuk pesta ini. Belum lama duduk, mejaku telah terisi dengan 6 orang, dan kami saling berkenalan satu sama lain.

Rupanya tak semua orang suka dengan pengaturan duduk ini. ada ribut2 kecil di meja sebelah. Ada satu keluarga dekat pengantin, di mana anak2 keluarga ini (udah pemuda kog..umur 20-an), di pisahkan mejanya dengan orang tuanya. Pertimbangan si tuan rumah, Para sepupu di kumpulkan bersama para sepupu, sama-sama orang muda, di satu meja, melihat hubungan mereka yang cukup dekat selama ini, biar seru ngobrolnya.

Salah seorang anak ini, tak mau diatur seperti itu, maunya tidak duduk di meja tsb. Karena ribut2 ini, temanku bersama istrinya mendekati meja tsb, dan bilang, bahwa pengaturan ini sudah di pikirkan dengan seksama, jadi, tolong hargai dan duduklah karena pesta segera di mulai.

Si anak muda merasa sebagai tamu tidak diperlakukan sebagai raja, karena kemauannya tidak dituruti, ngambek dan mengancam mau pulang aja. Temankupun dengan tegas juga bilang “Aku tuan rumah di pesta ini, telah memikirkan dan mempersiapan dengan seksama, tolong ikutlah aturanku, karena ini pestaku.  Jangan kacaukan aturan yang sudah kubuat di sini. Aku tidak akan menahan kamu kalau kamu mau pulang, tapi kalau kamu tetap mau tinggal dan mengikuti pesta ini, aku akan sangat berterimakasih”

Karena si anak muda tetap tak mau duduk di tempat yang ditentukan, keluarga ini tak enak hati, akhirnya mereka sekeluarga keluar meninggalkan pesta itu sebelum pesta di mulai. Temanku juga tidak menahan keluarga tsb.

Pestapun berlangsung dengan lancar, ya.. cuma meja yang di tinggalkan oleh keluarga itu yang tak penuh kapasitasnya.. sayang sekali.

This entry was posted in Liputan dan Opini and tagged . Bookmark the permalink.

32 Responses to Makan Meja : Ikut aturan main tuan rumah

  1. elkaje says:

    kisah soal jamuan makan meja, juga di kisahkan Anna Cindil di replynya pada postinganku yang ini

  2. lferonica says:

    acara spt ini memang kadang susah banget apalagi sering kali karena gengsi dan dibilang kalau tdk bisa kenapa juga mengadakan pesta.

  3. dianps says:

    oalaah .. kok ortunya ga ngebilangin si anak muda itu ya mbak ..ckckck..

  4. elkaje says:

    iya Fer, di sini ini, beda dikit… jadi omongan. dan gengsi masih di pelihara

  5. elkaje says:

    sama2 kuper kali Dian.. hehe..

  6. yang salah orang tuanya, ngajarin anaknya gak menghormati orang lain dan bertindak semau gue…

  7. pandakuning says:

    udah dewasa kok masih kyk anak SD gtkalo msh SD gpplah semeja sama ortunyaortunya jg kok ya ga sungkan sm yg punya gawe

  8. dev38 says:

    wah sayang sekali ya, masih ada ortu yg tidak bisa memberi contoh kpd anaknya….sebetulnya malah enak khan kl dipisah dr ortu dan semeja dg yg seumuran, biar tambah gaul gitu, mungkin menurut tuan rumah nya….

  9. haleygiri says:

    ha kuwi bocah wis gerang kok kelakuane koyo cah TK

  10. enkoos says:

    Gitu orangtuanya kok ya ikut2an pulang. Orangtua geblek. Keliatan sekali kalau anaknya seperti itu hasil didikan ngawur orang tuanya. Kecil dimanja besar teranja anja.

  11. dphn04 says:

    waah…anak manjja banget…jgn2 pengen duduk ama ortunya biar bisa disuapin tuh, ortunya juga ajaib. Kalo aku yg punya pesta sih ya emang mending mereka pulang ajah🙂

  12. elkaje says:

    iya mbak.. setuju itu. aku mendukung sikap si tuan rumah yang tegas spt itu

  13. elkaje says:

    itu mungkin anak manja yang selalu di ikuti kemauannya, giliran di pesta itu, dia gak bisa duduk di tempat yang dia mau… ngambek

  14. elkaje says:

    mungkin di meja itu ada musuhnya Dev… makanya ngotot nggak mau. sukurin… orang hidup damai aja enak kog mlah musuhan. hehe

  15. elkaje says:

    beneran itu keluarga geblek kali… malah ngikuti kemauan si anak, mengorbankan rasa hormat pada si tuan rumah, yang adalah keluarga dekat mereka juga

  16. elkaje says:

    ya Helen, aku ya mendukung sikap temanku itu.

  17. jrdd says:

    BRAVO… emang harus begitu kok, mulailah org Indonesia (apapun etnisnya) jadi asertif yg nggak agresif!! Soalnya, maaf lho.. org Indonesia kan terkenal “sopan-santun” dan “ramah-tamah” walopun semua2nya jaman skarang ini “dipaksain”. Bukan apa2, liat aja kalo lagi ber-interaksi dg org asing sering dianggap “remeh” kan???

  18. elkaje says:

    haha… ya, kudu mulai dari diri sendiri nih, semoga bisa mempengaruhi orang di sekitar juga

  19. pandakuning says:

    udah besar lho padahal, seumuran sama aku, tp kok ga ada sopan santunnya

  20. miapiyik says:

    anak udah gede, 20-an, koq ndak sopan ya mba Inne, ga mau sebentar aja menghormati pesta tuan rumah

  21. elkaje says:

    makanya.. sak karepe dewe tuh

  22. cindil says:

    Anak MANJA! *cuman baca tapi ikutan sebel*

  23. elkaje says:

    si tuan rumah juga sebel banget, akhirnya kan mubazir tuh.. mejanya nggak terisi penuh, makanan tersissa

  24. elkaje said: “Aku tuan rumah di pesta ini, telah memikirkan dan mempersiapan dengan seksama, tolong ikutlah aturanku, karena ini pestaku. Jangan kacaukan aturan yang sudah kubuat di sini. Aku tidak akan menahan kamu kalau kamu mau pulang, tapi kalau kamu tetap mau tinggal dan mengikuti pesta ini, aku akan sangat berterimakasih”

    aku salut banget dengan tuan rumahnya… bersikap tegas namun sopan. Padahal tuan rumah udah capek ngurus ini-itu, tapi masih bisa handle masalah ini dengan baik, meskipun sungguh sayang para tamu akhirnya tetap pulang juga…Di sini kami nyebutnya; ciak-tok = makan meja. Dan memang idealnya kita semeja dengan orang yang asik, dikarenakan panjangnya waktu perjamuan makan. beberapa yang pernah kami datangi, tidak sampai menuliskan nama di meja-meja. Bahkan ada yang ngegelar acara di lapangan terbuka dengan membuka ratusan meja, sehingga para tamu memilih sendiri mejanya dan rombongannya…

  25. elkaje says:

    ini ditulis, karena si tuan rumah benar2 menghitung, supaya ndak sampe kekurangan atau kelebihan. klo udah skala besar, barangkali susah ya pake mendata orang segala

  26. cutyfruty says:

    Aku setuju dengan pihak tuan dan nyonya rumah…. soale aku yo paling sebel kalau ngelihat tamu yang sak enaknya aja. Nduwe gawé ki yo persiapané jan njlimet kok yo, kudu teliti, pokoke macem-macemlah sing kudu diurus. Kalau tamunya ngga menghargai, rasane pengin nabok….

  27. elkaje says:

    disini tuh, emang kurang etika, krisis toleransi rupanya Sri

  28. emang ada aja yang model gitu ya ci…..*keluh* dua kali aku ikutan report di kawinan koko n cici, selalu adaaaaaa biang keroknya…

  29. dhiethey says:

    waduh, padahal itu keluarga dekat pengantin ya Ci.. koq bisa sih cari gara gara di acara .. mana udah gede pula anaknya.. parah… ortunya lagi mau maunya nurut ke anaknya, pdhl biar aja suruh pulang sendiri, kan udah gede..

  30. elkaje says:

    ada Mel.. di mana2 kan ada biang kerok. hihih

  31. elkaje says:

    haha.. kali udah kadung malu tuh, bikin huru hara.. jadi sekeluarga sekalian aja pulang daripada salting selama pesta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s