Salah Kaprah berhemat

Di awal keberadaanku di kantor baru, aku menunjukkan gaya hematku, tapi tidak menuntut mereka untuk mengikutinya,  hanya demonstrasi dulu.

Misalnya, aku menggunakan kertas bekas untuk mengirimkan memo internal dan menggunakan amplop bekas sampai ke Head Office. Hal yang tak pernah berani mereka lakukan. Kertas bekas, selama isinya bukan hal yang sangat confidential, tinggal di silang besar di bagian tulisan bekas. Amplop bekas, di coret informasi lamanya, lalu tulis info baru di sebelahnya, atau di tempel dengan label.

Amplop bekas yang telah berkali kali dipakai, dan di coret sana sini, aku belah, di potong, di lem terbalik untuk amplop CD Data.

Aku menggunakan kardus bekas susu, bekas kue, selama tidak berminyak, untuk menuliskan pesan2 internal pada para staf. Kardus aku potong kira2 10X10 cm, tergantung bentuk awal kardusnya. Setelah aku tulis pesan, aku letakkan berdiri di keyboard staf tsb.

Setelah kira kira sebulan, aku mengumpulkan semua staf, aku mengajak berhemat, dengan contoh-contoh yang telah aku lakukan. Hal ini perlu, karena selama ini mereka merasa bahwa sumber daya perusahaan begitu besarnya, jadi menganggap tidak masalah cuma selembar kertas, cuma sebuah bolpen, cuma hal kecil dibanding total biaya operasional dll.

Bukan Cuma alat tulis kantor, tapi semua hal aku sampaikan, supaya di hemat, bisa di hitung kebutuhannya, bukan Cuma di gelontorkan.

Dalam meeting ini, aku menekankan hemat, hemat, hemat.

Implementasinya?

Surat yang seharusnya hari itu di kirim ke head office, tidak di kirim. Alasannya, nggak ada amplop bekas. @#$%^&*($….???

Sabun cuci tangan, sangat bening, encer, dan susah membersihkan tangan. Akhirnya, kalau ada yang butuh cuci tangan sampai bersih, mengambil sabun colek. Tujuannya, menghemat sabut cuci tangan. Jadi sabun cuci tangan di encerkan se encer-encernya supaya hemat. Bisa di pakai atau tidak, urusan nanti, pokoknya hemat. (hemat sabun cuci tangan, tapi boros di sabun colek…weeeks)

Cetakan dokumen, samar-samar, karena pita printer sudah menipis (dot matric), katanya, dalam rangka penghematan.

Inilah kalau suatu permasalahan tidak dipahami dan diresapi secara mendalam. Cuma ditangkap instruksinya saja, “Harus Hemat” Kalaupun istruksi di jalankan, tentu karena patuh dan takut aja, bukan karena setuju dan memahami.

 

This entry was posted in Liputan dan Opini and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s