Memelihara malas

Suatu siang, aku pergi ke salah satu supplier, lokasinya dekat dengan kantor, jadi.. aku jalan kaki, lewat kampung, untuk mempersingkat jarak. Saat jalan pulang, di salah satu warung di ujung kampung, aku melihat Rahmat sedang duduk merokok. Aku menyapanya “Kamu masuk pagi ya?” ini beberapa belas menit setelah jam pergantian shift pagi dan siang. “Saya gak masuk bu, kan tangannya patah” dia menunjukkan tangan kirinya yang di bebat.

Aku tidak melanjutkan pembicaraan, terus aja jalan. Sampai di kantor, aku panggil personalia dan manager si Rahmat, aku tanya, sejak kapan tangannya patah. Ternyata sudah sebulan lebih Rahmat tidak bekerja.

Aku minta Rahmat di panggil, supervisor dan managernya juga. Aku tanya, badan segar bugar gitu kog ndak kerja… emang benar, tangan kirinya patah, tapi banyak pekerjaan yang bisa dilakukan tanpa harus menggunakan 2 tangan.

si Rahmat pun mengeluarkan banyak dalih, bahwa dia masih harus kontrol ke dokter, masih sering cekot2 tangannya, tidak bisa naik motor untuk pergi pulang ke kantor dan beberapa alasan lainnya. Jadi, akupun gantian memperdalam alasan2 yang dia buat.

– Berapa frekwensi cek ke dokter?  “dua minggu sekali”
– Kapan saat dia merasakan tangan cekot-cekot? “kalau tidur miring ke kiri, tangan dan bahunya tertindih”. – – Bagaimana siang kemarin dan hari ini dia bisa sampai di kantor? “Numpang dengan Nandang” (karyawan juga, yang rumahnya berdekatan dengan Rahmat)

Nah kan…jawaban jawabannya kan ndak nyambung dengan statement pertamanya.
Akupun memaksa Rahmat tetap masuk bekerja, dialihkan ke bagian lain, dengan pekerjaan ringan yang bisa di kerjakan dengan satu tangan saja.

malas
Hal macam ini sering terjadi, mereka berdalih sakit, kecelakaan, trus tidak masuk dalam jangka waktu lama. Si supervisor dan Manager juga cuek aja, karena merasa “memperhatikan anak buah sakit”, bukan bagian dari pekerjaan.

padahal, banyak orang2 yang cuma mengarang alasan untuk bisa tidak bekerja.
Misalnya….sakit maag nya kambuh. Kenapa? habis minum kopi. Lah udah tahu kalau punya sakit maag, udah tahu kalau kopi bakal bikin sakitnya kambuh… kenapa minum juga? **diam**

Misalnya…..diare. Lah… ini dalam rentang waktu setahun, diare bisa sampe 7 kali. kali ini, kenapa diarenya? kebanyakan makan pedas. Lain kali diare lagi… alasannya, makan kepedesan. Trus kan di tegor, kalau emang makan pedas bikin diare, ya jangan sengaja makan pedas dong, berarti kamu tidak perhatian dengan diri sendiri. eh…. suatu saat diare lagi…. alasannya “salah makan” salah makan gimana? harusnya makan tahu tapi salah menelan batu? lain kali diare lagi… di tanya kenapa… jawabnya “gak tahu nih kenapa…pokoknya mules aja”

Jadi nih ya…. orang yang nggak masuk karena alesan sakit, aku suruh atasannya atau personalia tanya, sakit apa? sudah ke dokter belum? apa treatmentnya? bagaimana keluarganya? (kalau misalnya flu.. keluarganya tertular jugakah?) makanya harus jaga kondisi, makan yang bener, waktunya istirahat harus dipakai sebagai istirahat, dll.

Weeh… nanya begitu aja kudu di suruh? Tapi ini bagian untuk mengikis ketidakpedulian orang2 di sekitar. Selain itu, jika semua supervisor atau manager mempedulikan anak buahnya, akan ketahuan mana yang bohong atau mana yang sakit beneran. Jadi ketahuan juga mana yang rajin dan mana yang suka memelihara malas.
Nah kalau ketemu orang yang memang malas dan selalu punya alasan, misalnya kayak diare itu… akupun bilang “awas ya kalau sampai diare lagi… berarti kamu tidak bisa menjaga tubuhmu sendiri, kalau tubuh sendiri aja tidak terjaga, bagaimana saya bisa mempercayai kamu bisa menjaga pekerjaanmu?”

Biasanya ampuh, tidak diare lagi. Eh.. alesannya sakit maag, sakit kepala, sakit ulu hati, ambien, alergi, turun berok.

nah karena udah begini… maka bikin kebijakan baru, berobat harus ke klinik rujukan! surat keterangan sakit harus dari dokter klinik rujukan!

This entry was posted in Ngalor_Ngidul and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s